Tuesday, June 30, 2009

Polemik Vaksin Meningitis dalam penyelenggaraan Haji seolah semakin tak mencapai titik temu. Syarat yag diwajibkan oleh Pemerintah Arab Saudi sejak 2006 itu menjadi isu hangat sejak Majlis Ulama Indonesia melansir penggunaan enzyme babi dalam vaksin tersebut. Hingga Komisi Fatwa MUI merilis Hukum Haram dan menyarankan agar pelakasanaan haji ditunda. Sedangkan DepAg secara tegas akan mempersilahkan mundur bagi calon jemaah haji yang menolak Vaksin.

Ketegasan ini seolah menjadi indikasi lemahya Indonesia dipercaturan dunia. Sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang tak mampu memainkan peran signifikan dalam menghadirkan solusi bagi ummatnya.

Apakah semua Negara penyelenggara haji tersandung kasus yang sama? Kalau ya, bagaimana solusi mereka? Kenapa harus impor (dari Belgia) vaksin yang mengandung enzyme babi? Kenapa Arab Saudi tidak (mampu) menyediakan vaksi halal padahal vaksin itu sebagai syarat wajib? Sederet pertanyaan yang dapat menyeruak mencari jawab.

Kesemua itu telah memberikan satu benang merah bahwa umat islam lebih banyak mengambil ibrah sejarahnya dan mengaplikasikannya dalam realitas hidup.

Ketika umat terbaik bagi manusia di bumi ini tak mampu melahirkan Ibnu Sina generasi baru, maka ketegasan itu hanya menjadi dilema dalam politik adu domba. Hanya satu kalimat yang paling mudah menggambarkannya yaitu “Arogansi Buih di Lautan”.

Monday, June 22, 2009

Hari yang bahagia. Hari yang akan mewarnai hidup ini di masa mendatang.
Setelah beberapa tahun menimba Ilmu Play Group, kemudian TK.

Tiba saanya aku di Wisuda
Ada selaksa makna yang ada di dada

"Berarti aku udah gak akan ketemu sama Bu Guru, Ya Mi", gumamku bertanya pada Ummi.

"Masih Mbak, besok masih sekolah sampai terima raport. Seminggu lagi", sahut Ummi.

"Asyik. Jadi masih ketemu sama Bu Guru?", senyum bahagia hadir di hati.

Terima kasih Zulfa ucapkan kepada semua Guru di KB-TKIT Ar Raihan. Atas bimbingannya yang kelak 'kan tergurat dalam pena sejarah hidupku. Semua jasamu kan terkenang s'lalu.

Ar Raihan Piyungan, 21 Juni 09
Zulfa

Saturday, June 20, 2009

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (Q.S. Al Balad:10). “maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Q.S. Asy Syams:8)

Itulah esensi dari perjalanan hidup manusia hingga akhir zaman. Fasiq dan Taqwa, Neraka atau Surgakah? Keduanya akan selalu saling berebut secara bergiliran. Saling menyusup dalam sendi-sendi kehidupan. Watilkal ayyaamu nudaawiluhaa bainannaas. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran).

Membaca ‘Hunting with Ungu’ mengajak hati untuk ‘berontak’. Rasa khawatir jika al-haq mendapat giliran dalam kehancuran. Dan itu berarti kita tak mampu meresapkan ibrah padahal panduannya ada pada kita. Al Qur’an Minhajul Hayyah. Begitukah atau tak memang kita tak mau mengambil pelajaran?

Terkadang “Apabila tangan kanan sedekah, jangan sampai tangan kiri tahu” menjadi alibi untuk berdiam diri. Disembunyinya amal kebaikan dari tempat terang. Masuk dalam petak kamar dan gua gua yang boleh jadi justru memberi ruang gerak kebathilan merajalela. Dan mau tak mau untuk membendungnya harus dengan berbagai cara. Termasuk menggali ‘harta’ kebaikan agar tak terpendam bersama Karun dikabarkan kepada dunia.

Masih ingatkah tulisan ‘Jejak Muhadditsin Blogger’? Belum lagi kering gurat tinta, BIAS itu sangat terlihat nyata. Tidak tanggung-tanggung lagi, karena menimpa Qiyadah dakwah tertinggi kita. Coba simak Bayan Fitnah berikut.

Presiden PKS, Tifatul Sembiring, Majalah Tempo, 7 Juni 2009 : “Apa kalau istrinya berjilbab lalu masalah ekonomi selesai? Apa pendidikan, kesehatan, jadi lebih baik? Soal selembar kain saja kok dirisaukan?”

Mengalirlah kemudian analisis yang tendensius.

Coba simak bayanatnya dari SMS Ustadz Tifatul :

Antum percaya Tempo atau ana? Antum baca deh artikel yang menyerang PKS di Tempo. Dia (Tempo) tanya, “Apakah PKS menekan SBY agar Bu Ani pakai jilbab?”, saya bilang “bukan!”. Dia tanya, “Apakah Bu Ani berjilbab lantaran alasan politik?”, saya jawab “Nggak tahu, tanya langsung ke orangnya!”. “Anda ini rewel banget,” kata saya, “urusan selembar kain diatas kepala wanita, dia gak pake kerudung ente ributin, dah pake kerudung diributin juga!”. Itu bahasa saya ke Tempo, yang saya tahu wataknya tidak Islami. Nah, percaya siapa?

Ikhwah fillah,

Kalau sudah begitu bagaimana? Memang menyalahkan para musuh dakwah tiadalah akan berguna. Berdiam diri juga bisa membiarkan kesalahan semakin melebar.

Hanya ada satu jalan yang telah di warranty dari Allah. Yaitu dengan mendatangkan Al-Haq seluas luasnya. Di pasar, jalan, kampus hingga parlemen bahkan media, kesemuanya harus mampu menghadirkan kebenaran. Maka jadilah ikhwah sekalian sebagai agen pembawa panji Al-Haq. Kalau untuk memasukkan berita kebaikan ke dalam media professional bernilai mahal kenapa kita tidak memanfaatkan yang murah dan meriah di dunia maya ini.

Tulis dan tulislah begitu yang selalu ditekankan.

Dan Katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap". Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (Q.S. Al Israa’:81).

*Home Sweet Home. Sumokaton jumat 07.34.

Friday, June 19, 2009

Guru serba salah. Terlalu lembut anak didik kurang ajar, ketika tegas dituding melanggar Hak Asasi Manusia.

Sebut saja Khadijah (bukan nama asli), maksud hati ingin memberi efek jera terhadap siswanya yang tidak mengerjakan pekerjaan rumah (PR) dengan cara menjewer. Tapi, jeweran itu malah membuahkan tuntutan yang tak mengenakkan. Guru SD itu dituntut wali murid untuk membayar ganti rugi sebagai balasannya.

Khadijah tentu saja menjadi panik. Apalagi ada ancaman dari orang tua murid untuk membeberkan masalah ke media, bahkan akan berlanjut ke kepolisian. Ibu guru itu sempat kelimpungan untuk mendapatkan uang senilai Rp 5 juta. Namun karena mendapat pembelaan dari rekan-rekan seprofesinya, tuntutan itu masih mengambang. Hingga berita ini diturunkan, belum ada perkembangan.

Perlakuan yang sama juga menimpa Ibu Siti (bukan nama sebenarnya), guru SDN Depok kelas IV. Ia pernah didatangi wali murid dan dua orang preman bertubuh tinggi besar, gara-gara tidak menaikkan kelas anak didiknya. Ibu Siti bahkan sempat diancam wali murid untuk dilaporkan ke diknas sampai wartawan setempat, jika guru SD itu tak menaikkan anaknya.

“Saya merasa diteror, karena didatangi preman bawaan wali murid. Dan ini bukan sekali terjadi, guru sebelumnya pun mengalami hal yang sama, ditekan agar menaikkan kelas anaknya yang lemah dalam setiap mata pelajaran,” ujar Ibu Siti.

Setelah mengadu ke Kepsek tempatnya mengajar, wali murid itu tetap saja menekan. Didiamkan, esoknya kembali didatangi lagi. Karena tekanan yang bertubi-tubi, Pak Kepsek pun terpaksa mengeluarkan kebijakan “Naik-Terbang”. Maksudnya, si anak akan dinaikkan, tapi dengan syarat harus pindah ke sekolah lain. Inilah bentuk tekanan wali murid, ketika guru tak lagi dihormati.

Menurut pengamat pendidikan, Masroni A.Md, seiring dengan bergulirnya waktu, penghargaan terhadap guru sudah mulai menurun dan berkurang. Idealnya, guru harus dihormati, digugu, ditiru, dan dijadikan panutan. Kata-katanya didengar, nasihatnya dituruti. Tapi, harapan itu sulit ditemukan pada hari ini, di mana guru tidak lagi dihargai, dihormati, dan dijadikan panutan. Guru sudah kehilangan wibawa di mata peserta didik dan masyarakat. Sampai harus dilaporkan ke kepolisian.

Kabarnya, para guru yang tergabung dalam Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) akan membentuk tim advokasi untuk guru. Tujuannya agar guru didampingi kuasa hukum bila terjadi sesuatu yang memojokkan dirinya, mengingat guru kerap dalam posisi yang sangat lemah. Ketika dikonfirmasi Sabili, Ketua PGRI kecamatan Pancoran Mas, Samsuddin mengatakan, hal itu masih dalam proses.

Hasil Survei

Ihwal jewer-menjewer atau tekanan terhadap guru hingga berbuat tuntutan, rupanya terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Di Surabaya, tepatnya 28 Mei lalu, Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Ketabang IV, Drs Sunarto MM dilaporkan ke polisi oleh empat orang tua siswa kelas I. Jeweran kepsek itu dinilai terlalu kuat, sehingga ke-4 anak didiknya terluka. Di Sumatera Barat, pernah terjadi, seorang guru dikejar wali murid dengan menggunakan parang oleh anggota masyarakat yang marah karena anaknya dijewer sang guru di lingkungan sekolah. Anak tadi menangis kemudian mengadu kepada orang tuanya.

Di Situbondo, kasus penjeweran juga dilakukan seorang Kepala Sekolah SDN III Kandang, Kecamatan Kapongan, Situbondo Jawa Timur terhadap siswinya yang duduk di bangku SD kelas VI. Sejumlah LSM setempat masih mempersoalkan sang guru yang menjewer karena anak didiknya tidak bisa mengeja huruf ABCD.

Di Maumere, (15/9) guru matematika di SMP Negeri 1 Waigete, Kabupaten Sikka, memukuli 60-an siswa kelas I dan II sekolah itu, dengan belahan bambu hingga luka memar. Ibu guru itu jengkel karena para siswa mengolok-oloknya dengan lontaran “SGM” (sinting, gila, miring).

Yang menarik, sebuah harian ibukota ternama di Jakarta telah melakukan survei, selama Januari hingga April 2008. Hasil survei itu menjelaskan, jumlah kasus kekerasan terhadap anak berusia 0-18 tahun di Indonesia, terdata 95 kasus. Dari jumlah itu, persentase tertinggi, yaitu 39,6 persen diantaranya, dilakukan oleh guru. Tindakan yang sering dilakukan adalah kekerasan fisik seperti memukul. Korban terbanyak berasal dari siswa SD dan SMP.

Ketika ditemui di Depok, Ketua Komnas Perlindungan Anak Seto Mulyadi alias Kak Seto, hukuman jewer tak dibenarkan dalam mendidik. Jika sampai terluka, bisa dilaporkan ke kepolisian, tapi sebaiknya diselesaikan secara damai dan kekeluargaan.

Menjadi Pelajaran

Bagi guru, menjewer mungkin merupakan bentuk hukuman yang dapat menimbulkan efek jera. Dengan mengikuti paradigma lama, jeweran itu diharapkan anak didik akan berubah.

Seorang guru SD yang mengajar di lingkungan lokalisasi, bercerita ihwal cara mendidik yang dianggapnya berhasil. Sang guru menyadari, di lingkungan lokalisasi sedikit banyak memberi pengaruh bagi perkembangan jiwa anak. Karena dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka tinggal, akhirnya anak-anak tersebut memiliki kebiasaan buruk, yaitu suka bicara jorok dan kotor dengan sesama temannya.

Kebiasaan ini terus berlanjut, mulai dari pergaulan sesama tetangga sampai dibawa ke sekolah. Melihat tingkah laku anak didiknya, sang guru merasa sangat cemas, disisi lain guru tersebut berpikir apabila dibiarkan, perilaku anak didiknya semakin susah untuk diperbaiki. Sang guru pun memeras otak dan mencari cara agar anak didiknya bisa berubah, tidak berbicara jorok dan kotor, baik di sekolah maupun dilingkungan rumah mereka.

Suatu hari, sang guru mendapat ide. Segera anak-anak didiknya dikumpulkan, kemudian guru itu berkata kepada anak didiknya: “Anak-anak, mulai hari ini kita akan memulai sebuah permainan, apakah kalian semua setuju?” Mendengar gurunya berkata permainan, maka semua anak sekolah serentak mengatakan setuju.

Guru itu melanjutkan, ”Mulai hari ini, kita bermain permainan kata-kata sopan, apabila di antara teman-teman kalian ada yang berbicara kotor, baik di sekolah ataupun di rumah, maka siapa pun di antara kalian yang mendengarnya, boleh mencubit atau menjewer teman kalian yang berbicara jorok itu. Apabila ada yang melawan, di antara kalian boleh mengadu ke Ibu,” ujar sang guru.

Karena para murid takut dijewer dan dicubit oleh temannya, maka secara bertahap mereka mulai memperbaiki kebiasaan jeleknya, akhirnya sang guru berhasil memperbaiki kebiasaan buruk para muridnya.

Dari kisah tersebut, bukan berarti, jeweran bagi anak boleh ditolerir sebagai pola didik. Apalagi di zaman sekarang, jeweran kerap diartikan lain sebagai bentuk penganiayaan. Kasus-kasus di atas setidaknya menjadi pelajaran bagi semua guru bahwa menjewer kini dilarang oleh undang-undang perlindungan anak. “Orang tua sekarang paradigmanya juga berubah. Jeweran orang tua saat ini dianggap sebagai aniaya bagi anaknya. Mengingat orang tua di rumah tidak pernah menjewer, sehingga jeweran terhadap anaknya dianggap sebagai tindakan kekerasan,” ujar Masroni yang juga praktisi pendidikan.

Berkaitan itu, lanjut Masroni, guru perlu tahu bahwa sekarang telah terjadi pergeseran paradigma mengajar. Dahulu, tindakan mencubit, menjewer, memukul, membentak merupakan sarana untuk membuat anak patuh, mengubah tindak, dan sikapnya. Sekarang, tindakan itu dimaknai sebagai sebuah kekerasan (bullying),” ujarnya.

Ketika ditanya, mana yang efektif, mendidik dengan cara kelembutan atau ketegasan? Menurut Masroni, mendidik itu seperti memegang seekor burung. Pendidikan, ada saatnya keras, ada saatnya lembut. Burung jika dipegang dengan keras akan mati, namun jika dengan lembut burung yang nakal akan lepas. Perlu dibentuk dewan guru di sekolah, kapan bisa menghukum dan kapan tidak. Intinya ada efek jera dalam pendidikan, agar anak didik tidak mengulang kesalahan untuk yang kesekian kalinya,”tukasnya.

Terpenting, perbaiki hubungan antara orang tua dan guru. Terkadang orang tua sering melakukan pembelaan yang tidak pada tempatnya terhadap anaknya. Harus ada kesamaan langkah orang tua dan guru. Jika murid mendapat jeweran sedikit dari guru, semestinya orang tua tidak perlu melaporkan ke polisi. “Keras itu beda dengan tegas. Dalam dunia pendidikan, tegas yang proporsional itu sangat dibutuhkan. Kelembutan pun bukan berarti bebas dari sanksi hukuman dan ketegasan.”

Orang tua sekarang, lanjut Masroni, ingin anaknya beres. Kalau anak sukses, hasil didikan guru diabaikan, tapi kalau anaknya bermasalah guru dituding macam-macam. Dulu ketika guru menghukum murid yang nakal dengan cara berdiri dengan satu kaki plus menjewer kuping sendiri selama beberapa menit, orang tua tak ada yang feedback yang aneh-aneh.

Yang jelas, komunikasi guru dan orang tua murid perlu diperbaiki. Mereka harus bertukar pikiran (sharing), mencari solusi terbaik bagaimana mendidik, demi kebaikan setiap anak. Bukan dengan melaporkan ke polisi. Sepakati saja, hukuman mana yang tidak boleh dilakukan guru, seperti: hukuman dengan menjemur, berdiri atau berlutut di depan kelas, melempar penghapus atau penggaris, dijewer, menyentil, push up, dan membersihkan WC. Atau mengeluarkan kata-kata kasar, seperti bodoh, goblog, kurus, hitam, dan sebagainya

Untungnya guru di Indonesia tak sampai seperti terjadi di Texas, AS, yang membolehkan para guru membawa pistol saat mengajar di ruangan kelas, dikarenakan adanya tekanan dan teror dari anak didiknya sendiri.

Sumber : Sabili.co.id

Wednesday, June 10, 2009

Pada suatu hari seorang anak sedang bermain di lantai. Ia memandang ke atas, tampak ibunya yang sedang menyulam sehelai kain. Kemudian sang anak tersebut bertanya kepada bundanya, Ibu apa yang sedang ibu lakukan?"

"Anakku aku sedang menyulam sebuah kain yang indah", Sang ibu menjawab.

"Tapi ibu kenapa yang nampak adalah benang-benang yang ruwet?", si anak menimpali.

Sang ibu dengan bijak menjawab, "Lanjutkanlah permainanmu anakku, nanti kalau sudah selesai ibu akan memperlihatkannya padamu, dan kamu bisa melihatnya sendiri".

Anak tersebut heran, mengapa ibu menggunakan benang hitam dan putih, begitu semrawut menurut pandanganku. Beberapa saat kemudian, sang ibu tersebut memanggil, " Anakku, mari kesini, dan duduklah di pangkuan ibu...".

Waktu itu anak tersebut heran dan kagum melihat bunga-bunga yang indah, dengan latar belakang pemandangan matahari yang sedang terbit, sungguh indah sekali. Anak tersebut hampir tidak percaya melihatnya, karena dari bawah yang terlihat hanyalah benang-benang yang ruwet.

Kemudian ibu berkata,"Anakku, dari bawah memang nampak ruwet dan kacau, tetapi engkau tidak menyadari bahwa di atas kain ini sudah ada gambar yang direncanakan, sebuah pola, ibu hanya mengikutinya. Sekarang, dengan melihatnya dari atas kamu dapat melihat keindahan dari apa yang ibu lakukan. Sering selama bertahun-tahun, kita melihat ke atas dan bertanya kepada Allah.

"Allah, apa yang Engkau lakukan?" Dia menjawab : " Aku sedang menyulam kehidupanmu."

Dan kita membantah," Tetapi nampaknya hidup ini ruwet, benang-benangnya banyak yang hitam, mengapa tidak semuanya memakai warna yang cerah?" Kemudian Allah menjawab, " Hambaku, kamu teruskan pekerjaanmu, dan Aku juga menyelesaikan pekerjaanKu dibumi ini. Satu saat nanti Aku akan memanggilmu ke syurga dan mendudukkan kamu di pangkuanKu, dan kamu akan melihat rencanaKu yang indah dari sisiKu."

Tuesday, June 2, 2009


Sejenak aku termenung, mata ini memicing. Mencoba mencari jawab atas tanya yang tak terucap. Tentang teka teki yang muncul setiap hari. Kenapa harus si Boediono? Kenapa bukan si Budi Anduk saja sekalian?

Lalu aku harus bagaimana? Haruskah aku golput? Atau, aku harus pilih yang lain? Mungkin Benar apa kata ustadz, kalo cuma mengikuti kata hati langsung saja. Talak empat!

'Aku tetap tsiqoh ikut hasil syuro', azzam dalam hati terpatri. Yang aku tahu yadullah ma’al jama’ah. Tapi itu mungkin hanya untuk diriku, tidak untuk 'mengajak' karena begitu berat untuk memegangnya.

Sejatinya sudah beberapa kawan bertanya, sms dan juga email tentangnya. Jawaban yang datar dan netral demi memendam rasa kekecewaan hati. Tak peduli akan gempita caci maki yang terus menghias media tertuju pada satu fokus. Partai dakwah telah 'habis'.

Akhi,
Saya merindukan Partai Keadilan (PK). Article yang di eramuslim bagus banget, saya juga merasakan itu. Ternyata apa yang dikhawatirkan 'Sang Murrabi' terjadi. Sang Monyet jatuh kena terpaan angin yang sepoi sepoi.
Sadar dan Bangun Bung...


Email di atas membangunkanku dari mimpi ini. Menyadarkan dari lamunan panjang. Aku merenung dan menimbang. Benarkah tergolong taqlid buta?

Satu persatu sosok perkasa itu terbayang hadir. Kisah heroik yang terekam dalam sejarah keislaman.

Lelaki gagah ini terkenal dengan perangainya yang keras. Rasulullah mendo’a-kan khusus baginya guna mengangkat izzah islam. Ketidaksabarannya menjadi tonggak sejarah dakwah periode sirriyah ke jahriyah.

'Bukankah Engkau ini, Rasulullah?', yang ditanya hanya mengangguk. 'Kenapa Engkau hinakan Islam dengan empat butir perjanjian yang merugikan kita seperti ini?', gejolak jiwanya memberontak tak berjawab. Berpaling ia pada sosok lembut di sebelah Rasulullah, kembali pertanyaan bernada gugatan memecah kesunyian mencekam. 'Diamlah, Umar..!', Abubakar meredam gejolak di Hudaibiyah itu. Sirah paling popular yang kita pakai sebagai hujjah atas keputusan Qiyadah.

Lain Umar lain pula dengan pemimpin pasukan berkuda ini. Keperkasaannya pernah dirasakan kaum muslimin di bukit Uhud. Atas Al Fath Al Mubiin di Hudaibiyah, bayang kehinaan yang akan menimpanya membuat dunia serasa sempit. Bingung, kemana ia akan mengungsi?

Rasulullah menanyakan dirimu akhi, 'Kemana Khalid, saudaramu itu? Seandainya ia masuk Islam, tentu kami utamakan ia dari yang lain. Kemampuannya pasti akan bermanfaat bagi kemuliaan islam dan dirinya', begitu kiranya isi surat di tangan yang ia genggam. Surat yang ia dapat dari saudaranya yang lebih dulu hijrah ke Madinah. Utusan agung itu mengatakan kemuliaan, bukan kehinaan. Goresan pena itu telah abadi dalam sejarah.

Kurang dari tiga bulan dalam bimbingan tarbiyah islamiyah, Khalid bin Walid mulai menerima beban dakwah. Tugasnya memimpin pasukan muslimin yang lebih senior darinya melawan sanak dan kerabatnya sendiri. Orang orang yang dulu dipimpinnya untuk memporakporandakan pasukan mukmin harus ia temui sebagai musuh tanpa ragu sedikitpun.

Dan benar saja, penyebaran islam melesat bersama pasukannya sepeninggal Rasulullah. Sampai tiba suatu hari, dimana praduga Umar yang salah ia tepis. “Saya tidak berjuang untuk Umar, tapi untuk Allah. Kini saya bebas menjemput syahid,” sambutnya kala surat pencopotannya sebagai panglima dari Amirul Mukminin Umar bin Khattab dia terima di medan perang.

Lain cerita lain pula Ibrah yang bisa kita ambil.

'Aku', jawab manusia perkasa itu membanggakan kehebatan ilmu di hadapan para muridnya kala ditanya siapa di muka bumi yang paling berilmu. Cikal bakal dan asal mula perjalanan hidup yang panjang menimba ilmu 'bathin' yang harus dilaluinya. Kisah abadi dalam surat Al Kahfi antara Nabi Musa yang wajib berguru pada seorang lelaki hikmah yang ditafsir bernama Khidhir. Tentang pembunuhan anak kecil, pengrusakan perahu dan perbaikan rumah. Tiga peristiwa yang tak mampu ia cerna, gagal mengantarkan sosok kuat nan cerdas itu menguasai ilmu bashirah hingga memaksakan keduanya sepakat mesti berpisah.

Sedang Syaikh Munir Al Ghadban dalam Manhaj Haraki menyimpulkan kegagalan dari beberapa harakah dakwah adalah begitu mudahnya mereka (jundiyah) mencurigai para Qiyadahnya sehingga tidak tsiqah bahkan berbalik menjadi penentang. Meskipun betul bahwa faham dituntut lebih dahulu, tetapi sirriyah wa amniyah juga mesti bersinergi.

Ada cerita tokoh terkenal, ada juga kisah budak yang (mungkin) terlewat.

Kematiannya disambut takbir kaum mukminin. Mereka menyangka mati syahid menyambut hamba sahaya ini. 'Si fulan di neraka', begitu sabda Rasul memandang mayat Mid'am. Semua mata tertuju pada jasad sahaya pengumpul dan penjaga ghanimah yang terbunuh itu. Berbilang tahun ikut berkiprah dalam madrasah Rasulullah menempatkannya ke neraka. Oleh sebab sehelai kain yang dipakainya adalah bagian dari ghanimah, bukan haknya.

Beda Mid'am beda juga dengan Al Aswat, budak yang 'hanya' bermodal Aqidah. 'Si fulan syahid', sabdanya sesaat setelah penaklukan benteng Khaibar. Kali ini dahi para penghadir mengerut. Budak penggembala milik Yahudi bernama Al Aswat itu belum lagi beramal shalih. Hanya berbekal syahadat yang baru saja ia ikrarkan, lalu menghalau hewan-hewan ternak agar pulang kepada tuannya. Terbunuhnya disongsong syahid.

Kini golongan yang manakah diri ini? Sudah sehebat Umar-kah? Sudah segagah Kholid-kah? Sudah sepandai Musa-kah? (Mengaku) Bertaun berkiprah? Kader terbina? Sedang, tiap pekan sebagai 'juara' pengisi pundi 'iqob' karena mutaba'ah harian tak tercapai. Sudah pantaskah diri menyalahkan para Qiyadah hingga hilang rasa tsiqah? Bahkan membangkang?

Ilmu Taat dari Umar, ilmu Ikhlas dari Khalid, ilmu Bashiroh dari Musa, Ilmu Waktu dari Mid'am dan ilmu Niat dari Al Aswat. Kemana semua itu akan membawamu? Ataukah diri ini (sengaja) lupa?

'Al haq yang tiada terorganisir akan dikalahkan oleh kebathilan yang tertata rapi', demikian wasiat dari Ali bin Abu Thalib si penghulu ilmu.

'Barang siapa melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu. Jika tidak mampu, maka cegahlah dengan lisanmu. Jika tidak mampu cegahlah dengan hatimu. Dan itulah selemah lemah iman' (H.R. Muslim)

Mencegah kemungkaran dengan hati adalah iman yang paling lemah. Hati yang berlepas diri dari virus hazad yang menggerogoti amal, mengundang bibir untuk mencibir serta mulut untuk menghujat sesama saudara. ‘Mencegah’ dengan lisan atau tulisan berarti perkataan yang baik atau lebih baik tanpa hembusan kebencian juga perpecahan. Sedang bila dengan tangan lewat kekuasaan yang legal. Hingga di tangan tidak ada lagi kayu bakar yang menyulut api perpecahan semakin berkobar.

Di satu sisi dakwah ini digerogoti (kalau tak boleh dibilang menghasut) yang berlebihan dari media yang menjadi rujukan umat islam hanya karena dakwah ini berusaha merubah cara pandang menjadi inklusive (rahmatan lil 'alamin). Tulisan yang katanya nasehat tapi menafikkan prinsip ukhuwah yang dibangun di atas kesatuan aqidah. Dimana ia seharusnya mampu menumbuhkan itsar atau minimal tumbuh sikap salamatush shadr sebagaimana termaktub dalam Manhaj Dakwah.

Sementara di sisi lain umat islam disuruh belajar dan bercermin bagaimana seorang PM Turki, Tayyib Recep Erdogan yang berkali-kali harus meyakinkan bahwa partai yang dia pimpin tidak bertentangan dengan azas politik negara sekulernya. Agar AKP, partainya terbebas dari tuntutan pembubaran.

Kini aku sadar, kenapa ditekankan untuk senantiasa meluruskan dan memperbaiki niat.
'Tidak bisa tidak', kini Sang Murrobi melintas di pikiran.
"Kita harus berjama'ah, bersatu. Sekuat apapun sebatang lidi bisa apa? Tapi kalo sudah diikat menjadi sapu, kotoran mana yang tak bisa dibersihkan?", lanjut ustadz Rahmat Abdullah.

"Tapi ustadz, lidi dalam sapu juga bisa patah, bukan?"
"Dan Sungguh, aku tak ingin jadi lidi yang patah," azzamku membulat.

Seandainya keputusan Qiyadah itu salah, mudah bagi Allah me-minimize resiko yang akan menyertai. Tentu dengan syarat: tsiqah pada jamaah.

Innamal a'malu binniyat, wa likullimri in maa nawaa. Yadullah ma’al jama’ah. (wied)

Halmahera Utara, awal Juni '09
---