Sunday, May 31, 2009

Setiap kewajiban yang telah dibebankan Islam kepada umatnya senantiasa memuat hikmah dan maslahat bagi mereka. Islam menginginkan terbentuknya akhlak Islami dalam diri Muslim ketika ia mengimplementasikan setiap ibadah yang telah digariskan oleh Allah swt. dalam Kitab dan Sunnah rasul-Nya. Pada akhirnya nilai-nilai keagungan Islam senantiasa mewarnai ruang kehidupan Muslim. Tidak hanya terbatas pada ruang kepribadian individu Muslim, namun nilai-nilai itu dapat ditemukan pula dalam ruang kehidupan keluarga dan komunitas masyarakat Muslim.

Kita bisa merenungkan kembali ayat-ayat Allah yang berkaitan dengan hal ini, sebagaimana salah satu firman-Nya:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al-Baqarah: 183)

Melalui ibadah puasa, Allah swt. menginginkan terbentuknya pribadi-pribadi Muslim yang bertakwa. Pribadi yang tidak pernah mengenal slogan hidup kecuali slogan yang agung ini yaitu: sami’naa wa atha’na. Pribadi yang senantiasa melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya dalam situasi dan kondisi apapun. Oleh karenanya, Rasulullah Muhammad saw. telah bersabda:

“Takutlah kamu kepada Allah di manapun kamu berada, ikuti keburukan (sayyiah) dengan kebaikan, niscaya ia akan menghapuskannya. Dan pergauli manusia dengan akhlak yang baik.”

Dalam sabda beliau yang lain:

“Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa faridlah (kewajiban), maka jangan sekali-kali kamu menyia-nyiakannya. Dia telah menetapkan batasan-batasan, maka jangan sekali-kali kamu melampui batas. Dia telah mengharamkan banyak hal, maka jangan sekali-kali melanggarnya….”

Tentang zakat Allah swt berfirman:

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (At-Taubah: 103)

Dengan ibadah zakat, Islam mengharapkan tumbuh subur sifat-sifat kebaikan dalam jiwa seorang Muslim dan mampu memberangus kekikiran dan cinta yang berlebihan kepada harta benda.

Begitu juga ibadah shalat yakni ibadah yang jika seorang hamba melaksanakan dengan memelihara syarat-syarat, rukun-rukun, wajibat, adab-adab, dan kekhusyu’an di dalamnya, niscaya ibadah ini akan menjauhkannya dari perbuatan keji dan kemunkaran. Sebaliknya, ibadah ini akan mendekatkan seorang hamba yang melaksanakannya dengan sebenarnya kepada Sang Khalik dan mendekatkannya kepada kebaikan-kebaikan serta cahaya hidup.
Perhatikan ayat berikut ini:

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al-Ankabut: 45)

Muslim yang selalu menunaikan ibadah ini akan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan kebaikan dan mampu menjadi cahaya di tengah-tengah masyarakatnya. Muslim yang memiliki hamasah -semangat- yang menggelora dalam memperjuangkan kebenaran dan memberangus nilai-nilai kemunkaran, kelaliman, dan perbuatan keji lainnya. Hatinya terasa tersayat di saat menyaksikan pornografi dan porno aksi mewabah di tengah-tengah masyarakatnya. Jiwanya akan terus gelisah ketika melihat kelaliman yang dipermainkan para budak kekuasaan. Memang, ia harus menjadi cahaya yang berjalan di tengah-tengah kegelapan zaman ini.

Allah berfirman:

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (Al-An’am: 122)

Ibadah shalat adalah awal kewajiban yang diperintahkan Allah swt. kepada umat ini pada peristiwa Isra dan Mi’raj. Ibadah yang merupakan simbol dan tiang agama. Rasulullah saw. bersabda:

“Pokok urusan adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (H.R. Muslim)

Ibadah yang dijadikan Allah sebagai barometer hisab amal hamba-hamba-Nya di akhirat,

“Awal hisab seorang hamba pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya baik maka seluruh amalnya baik, dan apabila buruk maka seluruh amalnya buruk.” (H.R. At-Thabrani)

Ibadah shalat merupakan wasiat Nabi yang terakhir kepada umat ini dan yang paling terakhir dari urwatul islam (ikatan Islam) yang akan dihapus oleh Allah swt. Selain itu, shalat juga penyejuk mata, waktu rehatnya sang jiwa, saat kebahagiaan hati, kedamaian jiwa dan merupakan media komunikasi antara hamba dan Rabbnya.

Ibadah yang memiliki kedudukan atau manzilah yang agung ini tidak akan hadir maknanya dalam kehidupan kita, tatkala kita lalai menjaga arkan, wajibat dan sunah-sunnahnya yang inheren dengan ibadah ini. Tatkala kita tidak mampu menghadirkan hati, merajut benang kekhusukan dan keikhlasan dalam melaksanakan ibadah ini, maka kita tidak akan mampu menangkap untaian makna yang terkandung di dalamnya. Kita tidak akan mampu memahami sinyal-sinyal rahasia yang ada di balik ibadah ini.

Tidakkah banyak di antara manusia Muslim yang ahli ibadah namun masih jauh dari nilai-nilai Islam. Ahli shalat, namun masih suka melakukan kemaksiatan. Hal ini disebabkan nilai-nilai agung yang terkandung dalam ibadah sama sekali tidak mampu memberikan pesan-pesan Ilahiah di luar shalat. Takbir yang dikumandangkan di saat beribadah tidak mampu melahirkan keagungan di luar shalat. Do’a iftitah “Inna shalaatii wa nusukii….” yang dilafazkan dalam shalat tidak mampu mengingatkan tujuan hidupnya. Ibadah ini seolah-olah hanya menjadi gerakan-gerakan ritual yang maknanya tidak pernah membumi dalam kehidupan orang yang melaksanakannya.

Oleh karena itu, ibadah shalat yang mampu melahirkan hikmah pencegahan dari perbuatan keji dan kemungkaran, hikmah pensucian jiwa dan ketentraman, apabila dilakukan dengan penuh kekhusyukan, mentadabburkan gerakan dan ucapan yang terkandung di dalamnya, penuh ketenangan dan dengan tafakkur yang sesungguhnya. Maka ia akan keluar dari ibadah dengan merasakan kenikmatannya, terwarnai dengan nilai-nilai keta’atan dan mendapatkan cahaya ma’rifatullah. Rasulullah saw. bersabda:

“Tidak seorangpun yang melaksanakan shalat maktubah (fardlu), lalu ia memperbaiki wudlunya, khusyuknya dan rukuknya kecuali shalat ini akan menjadi pelebur dosa-dosa sebelumnya selama tidak melakukan dosa besar. Dan ini berlaku sepanjang tahun.” (H.R. Muslim)


Inilah yang pernah dilakukan oleh salafusshalih termasuk di dalamnya Ibnu Zubair ra. Mereka laksana tiang yang berdiri tegak karena kekhusyukannya. Mereka terbius dengan kerinduannya akan Rabbnya dan mereka asyik berkomunikasi dengan Sang Khalik tanpa terganggu dengan suara makhluk-Nya.

Ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan di saat melaksanakan ibadah shalat agar hikmah di dalamnya selalu terjaga:

Pertama, menjaga arkan, wajibat dan sunah. Rasulullah saw. bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihatku shalat.”

Kedua, ikhlas, khusyuk dan menghadirkan hati. “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah:5)

Ketiga, memahami dan mentadabburi ayat, doa dan makna shalat. “Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (Al-Maa’uun: :4-5)

Keempat, mengagungkan Allah swt. dan merasakan haibatullah. Rasulullah saw. bersabda:

“…Kamu mengabdi kepada Allah seolah-olah kamu melihat-Nya dan apabila kamu tidak melihat-Nya, maka (yakinlah) bahwasanya Allah melihat kamu…” (H.R. Muslim)

Semoga kita semua mampu merenungkan kembali arti shalat dalam kehidupan keseharian dan berusaha terus-menerus untuk memperbaikinya agar kita benar-benar mi’raj kepada Allah swt.
Wallahu A’lam Bish-shawwab

Sumber: Dakwatuna

Thursday, May 28, 2009

Oleh: Ibnu Kahfi Bachtiar, Alumni S2 Universitas Oldenburg (Jerman)

Harta yang paling bernilai dari sebuah peradaban adalah pemuda. Bagaimana tidak, ketika kebanyakan orang-orang di sekeliling mereka sudah hampir putus harapan dan bingung mendefinisikan apa itu pasrah, tawakal, ikhtiar, takdir, dan sejarah, maka para pemuda adalah kelompok yang dengan jelas dan terang menangkap definisi dari hal-hal tersebut. Sungguh unik keberadaan pemuda dalam sebuah umat. Ketika semangat sudah sulit didapat, mereka temui semangat itu pada pemuda.

Bila ada yang hendak mendengar bahwa sesuatu itu mungkin ketika yang lain sudah mengatakan “jangan melawan arus”, maka para pemuda lah yang mengatakan bahwa di mana-mana yang tidak melawan arus itu adalah yang terombang-ambing, sedangkan tidak akan sampai kapal itu di tujuan jika arus tidak dilawan dan dihadapi. Bahkan arus besar yang mengancam nyawa pun tidak layak untuk dibandingkan nilainya dengan sampainya kapal pada tempat tujuan yang hakiki dan sejati.

Lalu bagaimana bila para pemuda ini adalah pemuda yang perjalanan harinya tidak lepas dari kalimat syahadat yang berdengung di telinga, terucap di bibir, dan sudah menyatu dengan hati ? Bagaimana bila pemuda ini adalah ketika yang lain cemas dengan dunia beserta isinya, sedangkan mereka hanya cemas ketika mushaf itu belum terpegang olehnya ketika membuka, mengisi, dan menutup hari ?

Bagaimana bila pemuda ini ketika yang lain mencurahkan tenaga dan pikiran untuk memperindah halte dunia mereka sedangkan para pemuda inilah yang tenaga dan pikirannya disibukkan hanya untuk mempersiapkan apa yang hendak dikatakan sesudah mati ? Bagaimana bila pemuda ini ketika yang lain begitu kenal dengan taghut-taghut baru yang mencoba menarik hati, maka mereka lah yang sudah memenuhi hati dengan teladan para nabi, generasi awal yang kisahnya harum semerbak wangi, para syuhada yang tetap hidup walau dikira mati, dan para pejuang sejati yang tetap akan ada sampai ketika tidak ada lagi yang bisa disebut sebagai hari ?

Lalu sebandingkah hati, pikiran, nurani, semangat, air mata, tetes keringat, dan darah para pemuda ini dengan dunia beserta isinya yang dalam Al Quran pun sama sekali tidak pernah dipuji ? Pantaskah ada yang mendahului langkah persatuan umat itu bila bukan dari para pemuda ini ?

Dahulu bangsa ini pernah melihat pemudanya bersatu. Kebanyakan masing-masing membawa nama tanah di mana mereka lahir, kecuali Jong Islamitenbond. Kenapa ? Karena tanah terlalu hina untuk dibawa-bawa sebagai identitas bagi mereka yang sudah meletakkan Islam dan ketauhidannya sebagai satu-satunya kemuliaan. Luar biasa apa yang dibawa para pemuda itu.

Tidak sampai seratus jumlah mereka, jumlah yang tidak sekalipun bisa disebut secuil dibandingkan bangsa mereka yang sudah melimpah jumlahnya. Tetapi lihatlah apa yang mereka deklarasikan dan kelak disebut sumpah. Sungguh jauh berarti dari deklarasi penghambaan sebagian besar bangsanya yang masih belum tahu bagaimana hendak mencabut deklarasi penghambaan turun temurun itu.

Belum lagi merdeka, dan pada saat itu hanya mimpi belaka menyebut-nyebut merdeka, mars yang kelak menjadi lagu kebangsaan sudah lantang menyebut “Merdeka !”. Lalu mimpi siapa yang benar ? Mimpi para penikmat arus zaman atau mimpi para pemuda yang tidak punya apa-apa melainkan kesadaran ? Inilah mimpi yang diakui zaman dan kelak dibuktikan oleh zaman.

Kalaupun ada Kongres Pemuda Jilid Dua, maka yang ini harus berbeda. Pesertanya adalah mereka yang mengutamakan ketauhidan di atas segala-galanya. Para pemuda yang hadir tidak membawa nama tanah mereka lahir. Mereka memang membawa nama tempat lahir mereka, tetapi tempat lahir mereka itu bukanlah tanah, melainkan tempat lahirnya hidayah yang diturunkan-Nya. Mereka memang membawa nama organisasi mereka, perkumpulan dakwah mereka, harakah mereka, dan kalaupun ada, manhaj yang dianggap berbeda.

Tetapi syahadat mereka terlalu berat pertanggungjawabannya bila semua nama itu menggantikan Satu Ilah mereka. Diri mereka terlalu lemah bila banyaknya kitab rujukan mereka harus dipaksakan menggantikan Kitabullah, rujukan dari segala rujukan. Bendera mereka tidaklah lebih berharga bila hendak menggantikan Panji Islam, satu-satunya bendera yang diridhai-Nya.

Tempat yang dipilih pun bukanlah tempat yang tidak punya sejarah kental dengan risalah Rasulnya. Rasanya ada dua pilihan, Aceh sang Serambi Mekkah, tanah yang sejarahnya adalah perjuangan mengentaskan penghambaan manusia terhadap manusia, dan Bumi Minangkabau, kalaulah boleh disebut Serambi Madinah, bumi tempat lahirnya para ulama istiqamah yang menunjukkan betul arti perjuangan.

Lalu apa keistimewaan kedua tempat ini dibandingkan tanah biasa yang sudah padat dengan hiruk pikuk pusat pemerintahan yang sudah asing dari rakyatnya sendiri ? Tidak lain karena kedua bumi ini adalah bumi Zamrud Khatulistiwa yang paling dekat dengan Mekkah dan Yerusalem. Ke sanalah seharusnya umat ini menghadap. Kalaupun bervisi untuk bersatu, maka satukanlah visi itu dengan kiblat yang sama. Kalaupun boleh bermimpi, bermimpilah untuk menginjakkan kaki ke kedua tanah itu sebelum menginjakkan kaki di surga.

Bila dahulu kebangkitan bangsa ini banyak digerakkan oleh para pemuda dari negeri yang asing dengan makna tauhid, adakah berlebihan bila sekarang berharap kebangkitan itu banyak digerakkan oleh para pemuda dari negeri yang ketauhidan adalah sejarahnya sendiri. Kadang-kadang masalah itu memang lebih jelas bila dilihat dari luar sana.

Di manakah engkau wahai pemuda dari negeri Mesir ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Libya ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Sudan ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Afrika ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Jerman ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Belanda ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Swiss ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Perancis, Inggris, Skandinavia, Bosnia, dan Eropa ! Di manakah engkau wahai pemuda dari negeri Hijaz ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Arabian Peninsula ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Pakistan ! Di manakah engkau wahai pemuda dari India ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Malaysia ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Jepang ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Asia ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Australia ! Di manakah engkau wahai pemuda dari USA ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Kanada ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Amerika !

Sungguh...adakah sebutan lain bila bukan kemubaziran bila sudah tersebarnya pemuda umat di lima benua tetapi mereka merasa berat untuk bertemu di satu tempat di Zamrud Khatulistiwa ? Jawaban apa yang mereka punya bila datang kepada mereka malaikat penanya ?

Lalu apa agenda Kongres Pemuda ini ? Diri ini terlalu lemah untuk mengatakan apa yang belum pantas disebut. Kepala ini terlalu kecil untuk mendahului kumpulan kepala-kepala yang zikirnya adalah berpikirnya itu sendiri. Cukuplah para pemuda ini yang berembuk bersama dan membulatkan sebenarnya apa mau mereka, apa visi mereka, dan apa yang harus dipersiapkan. Cukuplah agenda terdekat adalah bertemu. Ya, mempertemukan pemuda umat yang sebenarnya dalam diri mereka mengalir darah yang sama, darah orang-orang beriman.

Bila sebelumnya mereka bisa berkata sinis pada saudaranya, masihkah kalimat sinis itu keluar ketika melihat wajah saudaranya ? Bila sebelumnya berniat hendak habis-habisan berdebat dengan saudaranya, cairkah niat itu ketika mendapat ucapan salam, jabat tangan, dan pelukan dari saudaranya ? Bila sebelumnya tidak bersatu, begitu mustahilkah untuk berharap bahwa akan ada persatuan yang hendak diubah dari sekedar cita menjadi nyata ?

Jangan berharap hendak bersatu sebelum bertemu. Rasulullah SAW mempersatukan Anshar dan Muhajirin dengan mempertemukan mereka, bahkan setiap Anshar pulang membawa satu Muhajirin sebagai saudaranya. Adakah sejarah umat lain yang mengisahkan persatuan seperti ini ? Sejak kapan ukhuwah bisa terjalin dengan bertemu secara maya tanpa bertemu langsung dengan saudaranya yang wajahnya memancarkan keimanan yang menular lebih cepat dari penyakit mematikan sekalipun ?

Umat ini sudah cukup lama tertidur. Umat ini sudah lama menanti titik terang kebangkitan yang hanya pantas dibawa oleh para pemudanya. Umat ini sudah terlena hanya untuk menggantungkan perubahan dari siklus perubahan yang diformalkan. Umat ini sedang menanti mereka yang meneladani Pemuda Muhammad yang mampu menyatukan kabilah-kabilah yang saling bertentangan hanya untuk memperoleh kehormatan meletakkan sebongkah batu hitam.

Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Ali yang ketika berumur 23 tahun sudah merelakan jiwa raganya menempati tempat tidur Rasulullah SAW demi kelangsungan cahaya Islam walau sewaktu-waktu ayunan pedang musuh membuatnya tidak akan berjumpa lagi dengan Rasul junjungan tercinta. Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Mush'ab, Duta Islam pertama, pembuka keran hijrah, pemegang panji Islam di Perang Badar dan Uhud, yang ketika menjemput syahid di tangan musuh, hanya berucap “Muhammad hanyalah utusan ALLAH, dan telah berlalu sebelumnya utusan-utusan ALLAH “. Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Usamah yang ketika berumur 20 tahun sudah memimpin pasukan yang diikuti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Zaid, Ja'far, dan Ibnu Rawahah yang syahidnya mereka kemudian menjadi pemadam kearoganan Romawi. Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Khalid, yang rahasia tidak terkalahkannya pasukan yang dipimpinnya semata-mata karena ALLAH, Rasulullah SAW, dan orang-orang beriman yang menjadi penolongnya. Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Shalahuddin Al Ayyubi yang mengambil kembali apa yang menjadi hak Kaum Muslimin yang tanpanya Kaum Muslimin menjadi kehilangan arti. Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Muhammad Al Fatih yang membuktikan janji Rasulnya.

Sudah cukup pemuda berharap pada yang lain untuk bersatu namun yang didapat tidak sekalipun bertemu di yang satu. Saatnya para pemuda ini menuntut dirinya sendiri. ALLAH, Rasulullah SAW, dan orang-orang beriman lah yang menjadi saksi.

Monday, May 25, 2009

Baru seratus ribu, kelak akan meningkat satu juta, delapan juta. Terus bertambah dan bertambah. Itupun baru pengunjung, belum lagi peminat apalagi pegiat. Tidak jarang yang hadir adalah para penghujat. Karena rumah ini tak berpintu. Wong siapa aja bisa bludas-bludus tanpa kulonuwun. Begitu istilah dari Ken Sri.

Masih banyak yang perlu dilakukan tidak hanya menjelang, terlebih pasca pemilu. Kebun dakwah mesti terus tersebarluas dan terawat. Jalan ini masih panjang sepanjang usia jaman yang dihuni manusia. Tidak hanya sepanjang angan angan yang mampu menembus batas ajalnya. Onak dan duri akan tetap mengiringi maka teruslah menulis agar engkau bisa menangkis.

Di zaman kini, tak ada kiprah positif yang (dianggap) bernilai berita hingga dijamin tak akan diliput media. Apalagi itu dilakukan oleh sebuah partai politik. Partai dakwah yang setiap saat menebar kebaikan. Dibutuhkan dana besar untuk kiprah positif yang tertayang meski berdurasi detik. Namun, bila negative akan segera booming menjadi headline di sana sini. Tengok saja sejenak, hanya karena kurang baik dalam ‘polling’ diulas ‘ber-aura negative’. Bacaan Al Fatihah dicetak ‘tema jualan kampanye’ lebih ekstrim lagi ‘menunggangi korban bencana untuk meraih kekuasaan’.

Juga untuk saling mengingatkan bahwa arah perjuangan kita tidak berubah. Seperti mutiara kata yang pernah saya dapat entah dimana saya lupa. ‘Jangan bilang tidak mungkin karena akan menutup kemungkinan. Jadilah engkau seperti jari jemari meskipun berbeda beda tetapi tetap bersatu (berjamaah-pen) dalam mengerjakan sesuatu’. Tak perlu lagi saling curiga yang akan membuat kita mudah mendapat was-was. Apalagi sampai hilang tsiqah pada para Qiyadah.

Masih dibutuhkan lebih banyak lagi sosok seperti Abu Hurairah, Aisyiah dan juga Umar Ibnu Khattab. Meski liputannya tidak se-Shohih Bukhori atau se-Hasan Turmudzi. Namun setidaknya bukan sesuatu yang dhoif (palsu).

Maka kabarkanlah ia padaku tentang sekumpulan pemuda yang istiqomah di medan dakwah. Agar tiada bias informasi, juga tak ada salah persepsi, apalagi disorientasi.(Wied)

Halmahera Utara, 23-05-09
Sang Musafir

PS: Script for 100.000 visitors

Sunday, May 24, 2009

Islam telah melahirkan satu generasi manusia yang paling istimewa di dalam sejarahnya dan sejarah kemanusiaan lainnya. Ini satu fakta dan kenyataan yang tak terbantahkan yang di dalamnya mengandung nilai-nilai tertentu yang harus diperhatikan dan renungkan dengan sungguh-sungguh, agar dapat menyelami rahasianya.

Al-Quran yang menjadi sumber dakwah ini masih berada bersama-sama kita. Allah SWT telah memberikan jaminan untuk memelihara Al-Quran, dan telah mengetahui bahwa dakwah ini harus terus tegak selepas zaman Rasulullah SAW.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al Hijr: 9)

Sedang Hadits Rasulullah SAW dan petunjuk-petunjuk perjalanan hidup dan sirahnya yang mulia itu juga masih ada di samping kita. Keduanya juga telah ada bersama-sama dengan generasi yang terdahulu itu, tidak hilang oleh perjalanan sejarah dan tidak lapuk oleh perkembangan zaman; hanya diri Rasulullah SAW saja yang tidak lagi bersama kita sekarang.

Maka ketiadaan diri Rasulullah SAW itu tidak boleh dijadikan alibi atas kegagalan dakwah di zaman ini. Pasti ada sebab lain yang membedakan antara generasi kita dengan generasi sahabat.

Lalu apa yang membedakan?

Sumber pokok yang dijadikan rujukan oleh generasi pertama itu ialah Al-Quran, hanya Al-Quran saja. Hadis Rasulullah SAW dan petunjuk-petunjuk beliau adalah semata-mata merupakan penafsiran kepada sumber utama itu. Ketika `Aisyah Radhiallahu'anha ditanya mengenai perilaku dan perjalanan hidup Rasulullah SAW maka beliau menjawab:

“Perilaku dan perjalanan hidup beliau [Rasulullah SAW] itu ialah Al-Quran” (Hadis riwayat Nasai)

Hanya Al-Quran sajalah yang menjadi sumber panduan mereka, perjalanan hidup dan gerak-gerik mereka. Ini bukanlah karena umat manusia di zaman itu tidak punya peradaban, tidak punya kebudayaan, tidak punya pelajaran, tidak punya buku karangan dan tidak punya kajian.

Karena, di sana juga telah wujud peninggalan peradaban Yunani (Greek), ilmu mantiknya, falsafah dan keseniannya, yang juga masih menjadi sumber pemikiran Barat hingga sekarang; malah di sana juga telah wujud peradaban Parsi, keseniannya, sajaknya, syair dan dongengnya, kepercayaan dan sistem perundangannya, serta peradaban lain, seperti India, China.Romawi dan Parsi berada di sekeliling semenanjung Arab, baik di utara maupun di selatan. Ditambah lagi agama Yahudi dan Nasrani yang telah ada di tengah-tengah semenanjung itu sejak berapa lama.

Jadi bukanlah faktor kekurangan peradaban dan kebudayaan duniawi yang menyebabkan generasi pertama itu merujuk kepada Kitab Allah (Al-Quran) saja dalam masa pertumbuhan mereka, tapi justeru karena “planning” yang telah ditentukan dan program yang telah diatur.

Rasulullah SAW bertujuan membentuk satu generasi yang bersih hatinya, bersih pemikirannya, bersih pandangan hidupnya, bersih perasaannya, dan murni jalan hidupnya dari unsur lain selain landasan Ilahi yang terkandung dalam Al-Quranul Karim.

Bagaimana kemurkaan Rasulullah SAW ketika beliau melihat Sayyidina Umar bin Al-Khattab R.A. memegang sehelai kitab Taurat. Melihat keadaan ini beliau pun bersabda:

“Demi Allah sekiranya Nabi Musa masih hidup bersama-sama kamu sekarang ini, tidak halal baginya melainkan mesti mengikut ajaranku.” (Hadis riwayat Al-hafidz Abu Ya'la dari Hammad dari Asy-sya'bi dari Jabir)

Lalu, apakah yang telah terjadi saat ini?

Pertama, Sumber-sumber panduan itu saat ini telah bercampur baur! Sumber itu telah dimasuki falsafah Yunani (Greek), dongeng-dongeng dan pandangan hidup Parsi, cerita-cerita Israeliat Yahudi, falsafah Ketuhanan ala-Kristian yang telah bercampur baur di dalam tafsir Al-Quran dan ilmu Al-Kalam, dan juga telah dimasuki oleh peninggalan peradaban zaman lampau yang sukar dikikis.

Di samping itu, banyak lagi sumber panduan lain yang telah bercampur baur dengan tafsir Al-Quran, ilmu Al-Kalam, ilmu fiqih dan ilmu ushuluddin. Campuran panduan inilah yang telah melahirkan generasi-generasi berikutnya. Karena itulah maka bentuk generasi pertama yaitu generasi para sahabat Rasulullah SAW, tidak lahir lagi setelah mereka.

Memang tak dapat diragukan lagi bahwa bercampur-baurnya sumber panduan itulah yang menjadi faktor utama mengapa generasi berikutnya berlainan sama sekali dari bentuk generasi pertama yang unggul itu.

Kedua, Para sahabat Rasulullah di dalam generasi pertama itu, belajar untuk dilaksanakan dengan segera dalam urusan hidup pribadinya dan hidup bermasyarakat. Mereka tidak mendekatkan diri dengan Al-Quran dengan tujuan mencari pelajaran dan bahan bacaan. Bukan juga dengan tujuan mencari hiburan dan penglipur lara. Tiada seorang pun dari mereka yang belajar Al-Quran dengan tujuan menambah bekal dan bahan semata-mata untuk ilmu dan bukan juga dengan maksud menambah akademik untuk mengisi dada dan otak mereka saja.

Belajar Untuk Dilaksanakan

Sikap inilah yang terbentuk: yaitu belajar untuk segera dilaksanakan, yang telah menambah luasnya lapangan hidup mereka, menambah luasnya ma'rifat dan pengalaman mereka dari ajaran Al-Quran yang tidak mungkin mereka capai kalau sekadar belajar dari Al-Quran dengan tujuan menyelidik dan mengkaji serta membaca saja. Sehingga, ia telah memudahkan mereka dalam bekerja dan meringankan beban mereka yang berat, karena Al-Quran telah menyatu dan men-darah daging.

Al-Quran tertanam kuat ke dalam jiwa mereka hingga meresap menjadi panduan dalam gerakan mereka, ia melahirkan pelajaran yang menggerakkan aktivitas, pelajaran yang tidak lagi merupakan teori yang bersarang di dalam kepala manusia dan di halaman kertas dan buku-buku saja. Bahkan ia menjadi kenyataan yang melahirkan kesan dan peristiwa yang mengubah garis hidup.

Al-Quran akan memberi dan mencurahkan isi perbendaharaannya kepada orang yang datang bertumpu kepadanya dengan ruh dan jiwa ini: yaitu ruh dan jiwa ma'rifat yang membuahkan amal dan tindakan.

Tidak syak lagi bahwa faktor kedua inilah bukti sebab utama generasi cemerlang tersebut. Dia merasakan ketika pertama kali menganut Islam, itulah zaman baru dalam hidupnya; terpisah sejauh-jauhnya dari hidupnya yang lampau di zaman jahiliyah. Sikapnya terhadap segala sesuatu yang berlaku di zaman jahiliyah dahulu ialah sikap seorang yang sangat berhati-hati dan berwaspada.

Dia merasakan bahwa segala sesuatu di zaman jahiliyah dahulu adalah kotor dan tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dia merasakan dari lubuk hatinya bahwa dia perlu membersihkan dirinya dari apa yang berlaku itu; lalu dia berusaha sedaya upaya mengikuti panduan yang digariskan oleh Al-Quran. Dia melepas total dengan tata hidup masyarakat jahiliyah dahulu dan berhubungan langsung selama-lamanya dengan masyarakat Islam; walaupun kelihatan pada lahirnya dia sering berhubungan dengan orang-orang musyrik dalam perdagangan dan pergaulan hidup seharian, tetapi perpisahan perasaan dan pergaulan hidup seharian adalah dua hal yang berlainan dan berbeda sekali.

Di sana tiada risiko yang akan ditempuh selain dari ujian dan penderitaan. Namun demikian, mereka secara otomatis telah bertekad bulat untuk tidak akan kembali lagi kepada kebiasaan dan perilaku jahiliyah, buat selama-lamanya.
Kita sekarang sedang berada di tengah-tengah suasana jahiliyah yang serupa dengan suasana jahiliyah yang ada pada zaman kedatangan Islam dahulu. Bahkan, lebih gelap lagi.

Segala sesuatu di sekitar kita ialah jahiliyah konsep hidup manusia sekarang, akidah kepercayaan mereka, adat istiadat dan kebiasan mereka, sumber pelajaran seni dan sastera mereka, peraturan dan undang-undang mereka, hingga banyak perkara yang kita anggap sebagai pelajaran Islam, buku rujukan Islam, falsafah Islam dan pemikiran Islam sebenarnya adalah hasil ciptaan jahiliyah!

Kita mesti kembali ke pangkal jalan, kepada sumber yang murni yang telah digali dan ditimba oleh orang-orang sebelum kita; yaitu sumber yang terjamin tidak bercampur baur dengan sumber yang lain.

Kita mesti kembali kepada Al-Quran untuk mendapatkan teori mengenai hakikat wujud seutuhnya dan juga hakikat wujudnya umat manusia dan segala hubungan di antara kedua jenis wujud ini dengan wujud yang hakiki, yaitu wujud Allah SWT.

Bila kita kembali kepada Al-Quran, maka kita mestilah kembali berdasarkan kaedah dan dasar “belajar untuk dilaksanakan”, bukan dengan kaedah dan dasar belajar untuk sekadar pengetahuan dan menglipur lara. Dan di dalam perjalanan itu, kita akan bertemu dengan keindahan seni Al-Quran, dengan cerita dan kisah yang heroik dan juga dengan pandangan-pandangan kiamat di dalam Al-Quran, juga dengan logika kesedaran hati nurani di dalam Al-Quran, dan juga dengan semua yang dicari-cari oleh para peneliti...

Karena jalan kita adalah berlainan dan bersimpangan dengan jalan jahiliyah. Seandainya kita mencoba berjalan seiring dengannya, walaupun cuma selangkah, niscaya kita kehilangan pedoman dan kita akan meraba dalam kesesatan.
Dalam hal ini, kita akan menempuh berbagai bentuk kesusahan dan penderitaan, kita akan menyumbangkan pengorbanan yang besar dan dahsyat. Dan ini suatu pilihan yang tidak ada pilihan lain kalau kita benar-benar hendak mengikuti langkah generasi pertama yang ditampilkan oleh Allah, yang telah menghancur dan memusnahkan jalan jahiliyah itu.

Adalah baik sekali bagi kita untuk tetap menyadari bentuk program dan landasan kita, menyadari tabiat sikap kita dan juga tabiat jalan yang mesti kita lalui agar dapat keluar dari suasana jahiliyah seperti yang telah dilalui oleh generasi yang agung dan unik itu.

Disadur: Ma’aalim Fith Thariiq
Sayyid Quthb

Wednesday, May 20, 2009

****

Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi

****

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Seandainya setiap anak yang baru lahir tidak memiliki keberanian untuk mencoba, nis­caya tak ada yang dapat mereka lakukan. Seandainya anak-anak kita takut mengha­dapi kegagalan, niscaya mereka tak bisa berjalan hingga kini. Sebab, sekedar untuk berjalan saja, banyak kesulitan yang harus mereka hadapi dan tak sedikit rasa sakit yang harus mereka tanggung. Hidung mungkin sudah lebih dari sepuluh kali tersungkur ke tanah hanya karena mereka belajar merangkak. Lutut… entah berapa kali mereka meng­alami luka. Tetapi anak-anak tak pernah putus asa. Anak-anak senantiasa bersemangat sampai orangtua memadamkannya dengan alasan kasih-sayang.

Pada mulanya anak-anak tak peduli dengan pakaian yang mereka kenakan. Apa mereknya, mereka tak peduli. Mereka juga tidak pusing-pusing jika ada yang sobek di kiri dan di kanan. Mereka tetap saja melangkah dengan mantap karena mereka berpusat pada tujuan. Tidak sibuk membayangkan apa yang akan dikatakan orang. Mereka belajar dengan ikhlas. Tetapi orangtualah yang membuat mereka malu berangkat ke sekolah ka­rena sepatu yang dipakai tak sebagus teman-temannya.

Anak-anak di Inggris, sejak kecil sudah sangat percaya diri belajar bahasa Inggris. Begitu juga balita-balita di Mesir, usia TK bahasa Arabnya sudah lebih baik daripada anak-anak Madrasah Aliyah kelas dua. Mereka belajar dengan penuh semangat. Rasa percaya dirinya sangat kuat. Mereka tidak berpusing-pusing dengan tata bahasa, dan tidak khawa­tir salah mengucapkannya –karena umumnya orangtua menerima apa adanya kesalahan ucapan anak-anaknya yang masih bayi. Orangtua bahkan menanggapi dengan penuh antusias dan penghargaan yang tinggi setiap kali anaknya berani mencoba bicara. Tetapi ketika mereka mulai beranjak besar, kita mulai cerewet terhadap mereka. Karena takut anaknya bingung, mereka tak boleh belajar yang pelik-pelik. Sebaliknya, karena sangat ingin anaknya cerdas, mereka perintahkan anak-anak itu belajar mati-matian dengan cara yang tidak tepat. Tidak sebagaimana kodrat perkembangan belajar mereka. Alamiah, ber­sahabat dan penuh semangat.

Astaghfirullahal ‘azhim…. Alangkah jauh kita dari agama. Lebih-lebih yang me­nulis risalah ini.

Benarlah kata Buckminster Fuller. Ia pernah mengingatkan, “Setiap anak terlahir jenius, tetapi kita memupuskan keje­niusan mereka dalam enam bulan pertama.”

Ya, setiap anak. Siapa pun ia, sejauh lahir dalam keadaan mental yang normal, mereka adalah jenius-jenius besar yang sudah dibekali Allah dengan percaya diri tinggi, semangat besar, antusias dan senantiasa belajar. Di usia-usia awal kehidupannya hingga menginjak tahun keenam, mereka belajar –meminjam istilah Glenn Doman— “tanpa usaha”. Saya tidak sepenuhnya sepakat dengan ungkapan Glenn Doman, tetapi ungkapan ini saya pakai untuk menunjukkan betapa anak-anak kita dikaruniai daya tangkap yang luar biasa atas setiap perkara yang kita ajarkan kepada mereka. Sengaja atau tidak.

Rangsangan yang kaya dan tepat di usia ini bukan saja membuat mereka lebih cerdas. Lebih dari itu potensi mereka sendiri berkembang. Salah satu potensi itu adalah IQ. Ini berbeda dengan orang dewasa. Usaha yang keras dalam belajar akan membuat kita lebih cerdas, tetapi IQ kita tidak akan bertambah. Perkembangan IQ sudah selesai pada usia 12 tahun, dengan rincian 90% perkembangan IQ tercapai pada usia 6 tahun dan 10% sisanya diselesaikan antara usia 6-12 tahun. Maka sungguh, rangsangan yang tepat di usia-usia awal akan sangat besar artinya. Dan itulah yang dilakukan oleh orangtua Imam Syafi’i rahimahullah sehingga anaknya hafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun. Begitu pula yang dila­kukan oleh para orangtua generasi salafush-shalih. Tetapi bukan kita.

Astaghfirullahal-‘azhim. Orangtua macam apakah kita ini, ya Akhy? Ataukah kita menjadi orangtua semata-mata karena anak kita sudah lahir?

Betapa banyak suami yang menyandang gelar bapak hanya karena istrinya mela­hirkan. Sebagaimana banyak wanita disebut ibu semata-mata karena dialah yang melahir­kan. Bukan karena mereka menyiapkan diri menjadi orangtua. Bukan karena mereka me­miliki kepatutan sebagai orangtua. Dan saya tidak tahu, apakah yang menulis ini layak disebut orangtua ataukah hanya orang yang lebih tua dari anaknya.

Astaghfirullahal-‘azhim. Semoga Allah membaguskan amal-amal kita dan memba­guskan pendidikan anak-anak kita.

Hari ini banyak orangtua maupun guru yang gelisah bagaimana menjadikan anaknya percaya diri. Islam seakan-akan sudah tidak cukup lagi. Padahal, kita yang men­jadi penyebabnya. Kita ajarkan anak kita berjilbab agar mereka menjadi orang yang memu­liakan syari’at Allah semenjak usia mereka yang masih belia. Tetapi saat berbicara, bukan iman yang kita tanamkan, melainkan keinginan untuk memperoleh tepuk-tangan manusia yang kita bangkitkan. Kalau mereka tidak berjilbab, bukan kita ingatkan mereka tentang mahabbatullah, melainkan biar cantik dilihat orang. Maksud kita baik, tetapi yang kita te­riakkan, “Ayo, coba dipakai jilbabnya. Ih, jelek ah kalau nggak pakai jilbab.”

Begitu mereka memakai jilbabnya, segera saja kita memuji, “Nah…, gitu dong. Kalau pakai jilbab kan cakep. Cantik, kan?”

Ah, andaikan saja pujian yang jarang kita berikan pada anak itu lebih mengingat­kan mereka kepada Tuhannya, insya-Allah akan lain ceritanya anak-anak kita. Tetapi tidak. Kita lebih sering memuji mereka –meskipun tampaknya kita lebih sering mencela—dengan alasan-alasan yang tidak menghidupkan jiwa. Kalau memang memakai jilbab hanya untuk cantik, bukankah ada jalan lain agar tampil lebih cantik lagi daripada sekedar pakai jilbab?

Sebagaimana cara kita memuji anak saat pakai jilbab, seperti itu pula seringkali kita menganjurkan anak-anak berpakaian yang patut saat ke masjid. Kita suruh mereka pakai pakaian yang bagus biar tidak malu pada teman. Bukan karena Allah ‘Azza wa Jalla sudah berfirman, “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raaf: 31).

Maka, bukan bunda salah mengandung kalau anak-anak itu akhirnya memiliki rasa percaya diri yang tanggung. Berbeda sedikit saja dengan temannya, sudah cukup un­tuk membuat mereka meringkuk di kamar. Tak berani berbaur dengan hati yang mantap. Apalagi menjadi sumber pengaruh yang baik bagi teman-temannya. Padahal mereka dila­hirkan untuk zaman yang bukan kita; zaman yang membutuhkan kekuatan jiwa lebih be­sar. Zaman yang membutuhkan orang-orang dengan percaya diri tinggi, cerdas akalnya, hidup jiwanya dan jernih hatinya. Mereka inilah yang siap untuk menyambut perintah, “Qum fa andzir. Bangunlah, lalu berilah peringatan.” Perintah-perintah di masa awal kena­bian Rasulullah tercinta, Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam.

Lalu, apakah yang dapat kita lakukan untuk membangkitkan rasa percaya diri mereka? Jika perkataan saat menyuruh mereka mengenakan pakaian yang indah justru bisa menyebabkan mereka kehilangan rasa percaya diri yang kokoh, maka seruan Nabi SAW saat haji Wada’ adalah penguat jiwa-jiwa yang lemah. Mari kita renungkan kembali tatkala Nabi mengingatkan:

“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali karena takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”

Inilah ajaran yang membuat sahabat-sahabat dengan pakaian kumal tidak malu mendatangi istana para kaisar. Inilah keyakinan yang membuat para salafush-shalih tidak kelu lidahnya melihat jubah-jubah kebesaran pada sultan. Inilah nasehat yang membuat setiap manusia merasa sederajat, tetapi di saat yang sama membuat mereka senantiasa merendah karena tak ada yang tahu siapa di antara mereka yang paling bertakwa. Sebab, ukuran takwa bukan terletak pada panjangnya jenggot, melainkan pada iman dan amal shalih yang berpijak di atas aqidah yang lurus.

Sungguh, saya bermimpi. Saya betul-betul sangat mengingini agar nasIhat Nabi swa ini diajarkan kepada anak-anak semenjak usia pra-sekolah. Di SD-SD, TK dan play-group, anak-anak perlu belajar. Bukan untuk menjadi hafalan semata, tetapi untuk menjadi kekuatan dalam jiwanya. Kita ajarkan kepada mereka, matannya maupun maknanya.

Demi Allah, mereka inilah yang insya-Allah lebih bagus daripada generasi orang­tuanya semacam kita. Pada saatnya, biarlah kita menjadi catatan sejarah saja bahwa kita pernah ada. Tugas kita sekarang adalah menyiapkan mereka agar menjadi manusia-manu­sia yang menegakkan kalimat Allah di muka bumi dengan penuh percaya diri. Mereka tidak tunduk hanya karena takjub melihat Chinook. Mereka tidak lemah hanya karena mendengar nama Amerika.

Anak-anak kitakah yang akan seperti itu?

Sumber: hidayatullah.com

Tuesday, May 19, 2009


by: sesar

Kenang...
Kenanglah... waktu kecil, kau dibuai oleh ibu....
Kenanglah hangat kasih sayang sang ibu....
Kala sedih menerpa... maka dia berada disisimu
Kala bahagia menerpa... iapun ikut bahagia

Masa balita telah lewat...
Masa remaja telah beranjak...
Masa dewasapun kini berjalan...

Apakah tak kau rindukan saat dia selalu disisimu?
Berapa banyak kasih sayang yang kita tebar...
Sebagai balas kasih sayangnya...?

Tiada seujung kuku hitampun tertebus...
Berapa banyak jasa beliau...?
Berapa banyak siksa kita kepadanya?

Cobalah sejenak hentikan aktifitas kita
Kenanglah wajah lembut ibumu
Bahkan dengan kerut lelah

Dibawah kelopak matanya..
kenang... dan kenanglah hingga hilang
semua bayangan maya berganti sosok seorang
Ibu...

Tariklah nafas dalam-dalam
Hembuskan secara pelan...
Ulangi dan terus lakukan...

Dengan penuh perasaan
Seraya tetap kau pandang...
Wajah lembut ibumu

Walau itu dalam khayal
Rasakan denyut lembut jantungmu
Rasakan pula desir darahmu
Yang mengalir di segenap pembuluhmu

Saat itupula cobalah dan terus coba
Mengenang... Ibu mu...!

Berapa banyak dosa yg tlah kita lakukan
katakanlah... didalam hatimu... terus berulang

Ibu... ataukah mama... ataukah umi, apa sajalah
Ssalkan mengakrabkan antara dirimu dengan dirinya...

I Love you, Mom....

Monday, May 18, 2009


This is a beautiful story

An old American Muslim lived on a farm in the mountains of eastern Kentucky with his young grandson. Each morning Grandpa wakeup early sitting at the kitchen table reading his Qur'an. His grandson wanted to be just like him and tried to imitate him in every way he could.

One day the grandson asked, "Grandpa! I try to read the Qur'an just like you but I don't understand it, and what I do understand I forget as soon as I close the book. What good does reading the Qur'an do?"

The Grandfather quietly turned from putting coal in the stove and replied, "Take this coal basket down to the river and bring me back a basket of water."

The boy did as he was told, but all the water leaked out before he got back to the house.
The grandfather laughed and said, "You'll have to move a little faster next time," and sent him back to the river with the basket to try again.

This time the boy ran faster, but again the basket was empty before he returned home. Out of breath, he told his grandfather that it was impossible to carry water in a basket, and he went to get a bucket instead.

The old man said, "I don't want a bucket of water; I want a basket of water. You're just not trying hard enough," and he went out the door to watch the boy try again.

At this point, the boy knew it was impossible, but he wanted to show his grandfather that even if he ran as fast as he could, the water would Leak out before he got back to the house. The boy again dipped the basket into river and ran hard, but when he reached his grandfather the basket was again empty.

Out of breathe, he said, "See Grandpa, it's useless!"

"So you think it is useless?"

The old man said,"Look at the basket."

The boy looked at the basket and for the first time realized that the basket was different. It had been transformed from a dirty old coal basket and was now clean, inside and out.

"Son, that's what happens when you read the Qur'an. You might not understand or remember everything, but when you read it, you will be changed, inside and out. That is the work of Allah in our lives".

" If you feel this email is worth reading, please forward to your contacts/friends. Prophet Muhammad ( p.b.u.h) says: "The one who guides to good will be rewarded equally"

Source: Unknown

Thursday, May 14, 2009


Survei politik mutakhir menyimpulkan duet SBY-Hidayat Nur Wahid sebagai pasangan terfavorit bila maju ke Pilpres 2009. Namun realitasnya nama Boediono mendadak muncul dan dipastikan sebagai pendamping SBY. Mengapa SBY menolak Hidayat?

Walaupun belum dideklarasikan secara resmi, duet SBY-Boediono dipastikan akan diusung oleh Partai Demokrat. Kabar ini dianggap valid karena diterima langsung oleh perwakilan parpol yang berkoalisi dengan Demokrat. Sekjen PKS Anis Matta sendiri bahkan menyebutnya sebagai informasi A1, yang akurasinya sangat tinggi.

Sebelumnya beberapa pengamat politik bahkan telah memprediksi bahwa duet SBY-Hidayat mustahil tebentuk. Penyebabnya, tak lain adalah ‘dosa' Hidayat yang terlalu menonjolkan kesan islami. Kesan ini dikhawatirkan akan ‘merusak’ citra SBY di percaturan poilitik internasional.

Sudah menjadi konsumsi publik, bahwa setiap pergantian kepala negara di Dunia Ketiga, ‘tangan’ Amerika selalu ikut berperan dan menentukan. Tak terkecuali suksesi nasional di Indonesia. Di sinilah, SBY dan Partai Demokrat terlihat gamang dalam memilih Hidayat, tokoh yang diusung PKS.

Di satu sisi, rakyat membutuhkan sosok pemimpin yang sederhana, jujur, dan tegas. Ini terbukti dari berkali-kali survei politik yang menempatkan Hidayat menjadi pendamping SBY paling favorit. Namun hasil survei itu sama sekali tak masuk pertimbangan SBY dalam menentukan cawapres.

Keputusan itu terksean janggal, karena selama ini SBY dan Demokrat selalu optimis, bahkan overconfidence, terhadap sebagian besar hasil survei yang dipublikasikan. Mengapa kali ini tidak?

Apakah SBY benar-benar akan memilih Boediono, rakyat masih perlu menunggu beberapa hari ke depan. Siapa yang akan dibela SBY dan Partai Demokrat? Rakyat Indonesia atau ‘tangan’ Amerika?

Widodo
widodo@nhm.co.id

Sumber: inilah sabili

Tuesday, May 12, 2009


Hiduplah Untuk Yang Mahahidup

Perayaan kecil (keluarga) menjadi tradisi sebagai ungkapan syukur dalam keluarga. Dalam setiap moment special bagi keluarga. Ummi telah menyiapkan Kue Ulang Tahun beserta Kadonya dari kemarin dan tentu disembunyikan agar ‘surprise’. Pagi sekali tinggal adik yang belum bangun. Bertiga bernyanyi “Panjang Umur” di kamar agar adik bangun. Dan adikpun membuka mata dan langsung tepuk tangan ikut bernyanyi... Menggemaskan....

Mau tahu kado yang dihadiahkan ...?

“Orang yang dikaruniai panjang umur dan mampu menjalaninya dengan amal sholih di sisi Allah swt. adalah orang yang paling baik”, begitu sabda Rasulullah Saw.

Betapa tidak, amal sholih yang akan mengundang banyak doa kebaikan dari orang lain. pergunakanlah umur kita untuk selalu beramal sholih. Apa guna umur panjang tanpa amal sholih? Apa gunanya hidup lebih lama jika tak memakmurkan bumi?

Yah… itulah sepenggal catatan sampul buku karangan Ustadz Yusuf Mansur sebagai kado buat Abi…

Ah… Happy Birthday, Abi..
May Allah bless you to guide us to get His-Paradise

Saturday, May 2, 2009


Menurut survei terbaru Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi, dan Sosial (LP3ES), Hidayat Nur Wahid merupakan figur cawapres paling favorit untuk mendampingi SBY. Hidayat menyisihkan sejumlah nama lain, termasuk Akbar Tandjung dan Jusuf Kalla.

Namun Direktur Eksekutif Lead Institut Universitas Paramadina, Bima Arya Sugiarto, berujar hasil survei itu tak akan mempengaruhi SBY dalam menentukan pasangannya di Pilpres 2009. "SBY tidak mungkin mengambil cawapres dari PKS, karena citranya di mata internasional bisa menurun," katanya.

Tentu Bima Arya mempunyai parameter tertentu, sehingga berkesimpulan yang sebenarnya patut disayangkan. Menurut saya, seandainya HNW dipilih sebagai cawapres SBY, justru akan menaikkan citra Indonesia di kancah internasional.

Kita tentu ingat langkah cepat HNW yang langsung berangkat ke Qatar dan sejumlah Negara di Timur Tengah lainnya ketika Israel membombardir Palestina secara membabibuta. Sebelumnya, HNW juga pernah menolak undangan makan bersama PM Malaysia, sebagai bentuk solidaritas terhadap nasib TKI di negeri jiran itu yang teraniaya.

Berkaca dari situ, kekhawatiran yang ada pada para pemimpin dunia internasional itu memang logis. Karena mereka tak akan bisa lagi mendikte dan 'memaksakan' kehedaknya terhadap bangsa Indonesia.

Indonesia segera memiliki pengaruh yang signifikan dalam percaturan dunia, karena mempunyai duet pemimpin yang berwibawa, sederhana, tegas, dan mampu 'memaksa' mereka menaruh hormat serta menghargai Indonesia sebagai sebuah negara besar.

Widodo
widodo@nhm.co.id
Sumber: inilah.com