Thursday, April 30, 2009


Salim A. Fillah

… Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi… (Ar Ra’d: 17)

Dalam temaram cahaya unggun yang meretih di luar jeruji jendela sempit, Ibnu Taimiyah melihat titik titik bening di mata para muridnya. Ia tersenyum. Kejernihan disorot matanya menebar, mendesak gemuruh api yang memakan kayu berkeretak. Keteduhan itu, tatapan penuh kasih itu, seperti sapuan salju di dada mereka yang membara. Kemudian, penjara kota Damaskus di tahun 728 H, menjadi saksi kata katanya yang abadi menyejarah.

“Apa yang dilakukan musuh musuhku kepadaku? Demi Allah, jika mereka memenjarakanku, inilah rehat yang nikmat. Jika mereka membuangku ke negeri antah, inilah tamasya yang indah. Jika mereka membunuhku, sebagai syahid aku disambut.” Tembok-tembok yang lumutnya mongering hitam, lantai yang mencium mesra wajah sujudnya di malam dingin, dan besi-besi jeruji berkarat siam khidmat.

“Apa yang harus kami lakukan, wahai Guru?”

“Beberapa hari ini, Sultan telah melarang penjaga memberiku pena, kertas dan tinta. Tolong lemparkan arang-arang itu ke dalam… sungguh, aku ingin menulis.” Ya, mulai dari itu, dari arang yang menari di atas tembok saksi, salah satu karya besarnya yang berjudul Risalatul Hamawiyah dipahatkan untuk keabadian. Keabadian nama besar seorang Syaikhul Islam. Keabadian dakwah dan jihadnya. Keabadian atas hasad orang orang kerdil jiwa yang iri padanya.

Ketika ia wafat, buku-bukunya dihancurkan. Muridnya, Ibnul Qayyim Al Jauziyah diarak keliling kota, terikat di atas gerobak sampah. Anak anak kecil berlarian seiring ejek tawa para dewasa, mengolok, meludahi, dan melemparinya dengan buah busuk.

Hari ini, dalam catalog hampir semua perpustakaan orang menjumpai nama Ibnu Taimiyah. Atau di toko buku. Ada. Selalu ada.

Tetapi jika makna abadi bagi sebuah buku hanyalah keberadaan, maka sungguh sederhana ia. Lebih dari itu, ia adalah pewaris nilai. Apapun itu. Baik atau buruk. Maka dalam Islam ada konsep sunnah hasanah dan sunnah sayyi’ah. Ada keshalihan jariyah, tetapi juga ada dosa yang terus mengalir. Maka apa yang engkau wariskan?

Berbahagialah Ibnu Taimiyah. Setiap huruf yang ia tuliskan tumbuh menjadi dzarrah kebaikan, memicu reaksi berantai yang mengalirkan pahala dari sisi-Nya. Adakah Niccolo Machiavelli menyesal ketika tahu bahwa Il Principe menjadi sahabat lekat bukan hanya Pangeran Cesare de Borgia penguasa cerdik yang ia cantumkan di halaman persembahan-, tetapi juga Napoleon dan Hitler? Juga Stalin yang akan menyumbangkan pembantaian 20 juta manusia sebagai tafsir karyanya?

Jika kata adalah sepotong hati, seperti kata Abul Hasan Ali An Nadwi, maka semoga buku adalah cinderajiwa. Bagi mukmin sejati, ia adalah sekelumit manikam yang diuntai dari ketulusan terdalam. Ia adalah huruf-huruf yang mengenalkan pahatan makna dari prasati nurani penulisnya. Maka sucilah buku sebagai mana suci jiwa yang menuangkan inspirasimya. Maka abadilah buku sebagaimana abadinya niat suci penulisnya. Meski mereka masih manusia. Ada salah ada lupa.

Anggun dan bijak Imam Besar ahli hadits, Syamsudin Adz dzahabi berkata tentang Ihyaa ‘Uluumiddin karya Al Ghazali, “Kalau saja tidak ada ilmu musthalahul hadits, maka inilah salah satu buku terbaik sepanjang masa.” Ya, iapun mengabadi hingga kini meski kita tak menyaksikan bagaimana penulisnya kemudian menyadari indahnya hadits-hadits shahih Rasulullah. Abu Hamid Al Ghazali wafat dengan Shahih Al Bukhari terpeluk erat di dadanya. Niat sucinyalah yang mengabadi.

Niat suci. Ikhlas. Allah telah membuat perumpamaan yang indah tentang keikhlasan,

“…Di antara kotoran dan darah, ada susu yang khalis, -ikhlas, murni-, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.” (An Nahl:66)

Laiknya susu yang murni itu, keikhlasan mengambil tempat dalam ancaman ketakmurnian. Ada kotoran dan darah. Tetapi susu itu murni, bergizi, bermanfaat dan mudah ditelan. Sungguh jika seorang penulis ikhlas, ia hati, ucapan, tulisan, dan tindakannya akan murni, bergizi, bermanfaat dan mudah ditelan. Mudah dicerna menjadi energi jiwa. Aduhai sunnguh malang meminum susu bercampur sedikit kotoran atau darah. Kalaupun tak muntah, jadilah penyakit. Semalang menyerap buku yang ditulis tanpa keikhlasan. Tetapi…, betapa sulitnya ikhlas itu.

Bersyukurlah, sejarah mencatat nama Abul Faraj Ibnul Jauzy. Ia bukan raja, bukan penguasa, kata ustadz Anis Matta dalam serial cintanya. Tetapi 50.000 orang yang hadir tiap kali ia menggelar majelisnya di Baghdad senantiasa menitikkan air mata bersamanya merasai keagungan Allah. Melalui lisannya, 30.000 orang yang tersesat kembali ke pangkuan hidayah. Dan tulisan-tulisannyapun mengabadi. Seperti Shaidul Khathir, yang oleh ‘Aidh Al Qarni disebut, “Buku paling bagus dan paling menarik yang pernah saya baca”

Masih ada banyak makna ketika buku adalah cinderajiwa seorang mukmin sejati. Seperti Fathul Barii, penjelasan paling mengagumkan atas Shahih Al Bukhari. Ia adalah saksi atas doa seorang Ibnu Hajar Al ‘Asqalani,”Ya Allah, jadikan diriku melabihi Adz Dzahabi!” Bukan iri, bukan sombong, atau arogan. Hanya sebuah perlombaan indah untuk meraih ridha Allah. Maka ketika Imam Asy Syaukani diminta mensyarah buku yang sama, ia menjawab,” Laa hijrata ba’dal Fath, tiada hijrah setelah Fathul Makkah, tiada syarah sesudah Fathul Barii.

Ya, cinta. Sebagai cinderajiwa terkadang buku juga mengabadikan cinta penulisnya. Cinta yang besar, cinta yang agung, cinta yang suci. Betapa tulus seorang ibu membesarkan putera yatimnya dalam papa, maka sang putera pun mencintainya. Inilah kisah Asy Syafi’i dan ibundanya. Kelak, untuk sang ummi, ia menulis buku induk fiqihnya yang luar biasa. Ia memberinya judul Al Umm, Sang Ibunda.

Buku, sang cinderajiwa juga menjadi sisi lain yang mengutama. Hasan Al Banna memang berkata, “Saya tidak mencetak buku, saya mencetak kader!” Tetapi kecintaannya yang begitu tinggi pada da’wah tak dapat ditutupi dari Majmuu’atur Rasaail, kumpulan risalah kecilnya dan bahkan Mudzakkkiratud Da’wah wad Da’iyyah, memoarnya yang ditujukan untuk da’wah dan para da’inya.

Atau, cinderajiwa itupun mengabadikan ruh perjuangan, spirit menyala, dan jihad penulisnya. Benarlah ‘Abdullah ‘Azzam ketika mengatakan bahwa sejarah Islam hanya ditulis dengan nuansa dua warna. Hitam tinta para ‘ulama dan merah darah para syuhada’. Ia, lelaki yang meninggalkan duduk manis mengajar mahasiswa untuk tegak mengokang Kalashnikov di antara hujan peluru itu telah menuliskan kedua warnanya untuk kita.

Saat hadir pertama kali, di jalanan Kairo 8000 jilid Fii Zhilaalil Quraan dibakar. Cukuplah memiliki Ma’alim fith Thariq sebagai alasan untuk memasuki penjara perang Abdel Nasser sepuluh tahun lamanya. Subhanallaah… Sesungguhnya, tak seorangpun mengetahui kapan dan di mana ruhnya dipanggil Ilahi. Tetapi Sayyid Quthb, lelaki kurus dengan kata-kata menyala yang menulis kedua buku itu telah meyakini dan menuliskan kalimat ini jauh sebelum kematian menjemputnya:

Kalimat-kalimat kita menjadi boneka lilin
Jika kita mati untuk mempertahankannya
Maka saat itulah ruh merambahnya
Hingga kalimat-kalimat itu hidup selamanya


Kalau saja dia hanya bicara, kata-kata ini akan menjadi hampa. Tetapi Sayyid Quthb menyongsong janji pada Rabbnya. Ia menjemput syahidnya. Maka salam untuknya, “Kalimat-kalimat itu hidup selamanya… Abadilah cinderajiwa!

Tuesday, April 28, 2009



***
Kewajiban lebih banyak dari waktu yang tersedia, Bantu orang lain agar ia bisa memanfaatkan waktunya. Jika engkau sedang bekerja maka ringkaslah dalam mengerjakannya (Imam Syahid Hasan Al-Banna)

***


Dalam 10 wasiatnya, Imam Syahid menutupnya dengan penekanan terhadap waktu. Seorang muslim seharusnya menghargai dan menengelola watunya secara bijak. Ada kesia-siaan dalam kelebihan dan juga ada pengabaian dalam kekurangan. Keduanya sesuatu yang tercela. Begitu Dr. Abdul Ibrahim Al Math’an menjabarkan secara gamblang.

Tak dapat dipungkiri bahwa waktu sungguh sangat berharga. Mungkin sudah banyak ulasan dan nasihat lain untuk memanfaatkan waktu sebaik baiknya. Ada ungkapan seperti: Time is Money atau juga Waktu adalah Pedang. Siapapun yang tak pandai memanfaatkannya tentu akan binasa karenanya.

Namun demikian kita sebagai umat Islam justru terlenakan dengan istilah yang selalu ter-implementasi dalam kehidupan sehari hari. Masih ada Hari Esok. Yah… kalimat itulah yang membawa kita terperosok ke titik nadir. Dengan itulah kita selalu membuat alibi hanya untuk membela diri.

Sudah saatnya kita harus sadar. Tak ada cara lain untuk memotivasi diri selain menjadikan waktu sebagai landasan gerak dan aktivitas. Bukan pemanfaatan yang terburu buru, tetapi lebih pada optimalisasi yang maksimal. Efektif dan efisien... begitu mungkin kalimat yang sreg…

"Ketahuilah bahwa kenyataan hari ini adalah mimpi hari kemarin, dan impian hari ini adalah kenyataan hari esok. Bersiap dan berbuatlah, jangan menunggu datangnya hari esok,karena bisa jadi engkau tak bisa berbuat apa apa di esok hari. Kita harus terus berbuat dan melangkah karena dalam jihad tak mengenal kata 'berhenti'". lebih lanjut Imam Syahid dalam rinciannya.

Sebagaimana yang telah Allah Firmankan:

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah (urusan) yang lain dengan sungguh-sungguh” (Q.S. [94] Alam Nashrah: 7)

“No Later or Tomorrow”

Saturday, April 25, 2009


---
Aku namakan dirimu Muhammad Husain As-Sajjad, karena aku ingin engkau kelak akan banyak bersujud kepada-Nya
---
Oleh Mohammad Fauzil Adhim *

Aku namakan dirimu As-Sajjad, karena engkau lahir di saat orang-orang sedang bersujud ke hadirat Allah ‘Azza wa Jalla. Engkau lahir di saat bidan yang seharusnya menolong kamu, sedang memenuhi panggilan-Nya untuk melakukan shalat Subuh. Ketika manusia sedang mengagungkan asma Allah, engkau lahir di dunia ini. Nyaris tanpa pertolongan. Tetapi pertolongan siapakah yang lebih baik daripada pertolongan Allah? Sesungguhnya, sebaik-baik penolong adalah Allah. Maka kelak, ingat-ingatlah bahwa hanya kepada-Nya engkau menyembah dan meminta pertolongan.

Hayatilah setiap kali engkau membaca “IyyaKa na’budu wa iyyaKa nasta’in. Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”

Nak…

Ada lagi yang membuatku memberimu nama As-Sajjad. Engkau lahir di hari pertama bulan Ramadhan. Ketika itu ibumu baru saja selesai sahur, ketika ia merasakan tanda-tanda kelahiranmu, Nak. Engkau lahir di bulan yang paling penuh barakah; bulan yang di dalamnya terdapat satu malam dengan kemuliaan yang melebihi seribu bulan. Di bulan itulah, Nak Al-Qur’an diturunkan. Dan di bulan itu pula engkau dilahirkan.

Sungguh, tak ada yang kebetulan di dunia ini. Maka ketika kelak engkau mulai bisa memikirkan untuk apa engkau diciptakan, perhatikanlah langkahmu dan renungilah mengapa Allah takdirkan engkau lahir di bulan yang suci; di bulan yang manusia dan para malaikat mengagungkannya; sementara syaithan dibelenggu oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Di bulan itu, manusia belajar menahan diri –tak sekedar menahan lapar dan dahaga—agar mereka meraih derajat takwa.

Maka, aku sungguh berharap ini menjadi pelajaran bagimu untuk belajar menahan diri, bukan karena ingin mendapat penilaian manusia, tetapi agar meraih kecintaan Tuhanmu.

Janganlah engkau memalingkan wajahmu dari Allah Yang Maha Menciptakan, hanya demi meraih kecintaan dari makhluk-makhluk-Nya. Sesungguhnya selain Allah adalah fana. Betapa banyak orang yang mengikrarkan cintanya dan tak lama sesudah itu ia mengingkari ikrarnya sendiri. Betapa banyak orang yang mengaku mencintai saudaranya dengan tulus, padahal yang mereka cintai hanyalah parasnya. Cinta itu awalnya meluap-luap, dan setelah dimakan usia, tak tahu lagi kemana cinta harus dicari. Jika engkau mencari cinta mereka, mungkin mereka akan mengelu-elukanmu ketika ada yang bisa didapatkan darimu. Tetapi sesudah itu, tak ada sedikit pun jaminan bahwa mereka tidak akan meninggalkanmu.

Sungguh, telah banyak berlalu ummat-ummat sebelum kamu. Maka berjalanlah di muka bumi, dan lihat kesudahan orang-orang terdahulu. Telah banyak orang yang menghabiskan waktunya dengan bekerja keras untuk memperoleh tepuk tangan dan decak kagum manusia, tetapi sesudah masa bertukar dan zaman berganti mereka tak lagi dikenali. Dan sesudah itu, sebagian di antara mereka terpuruk oleh kesedihannya sendiri, dan sebagian lainnya tersadar sehingga segera berlari kepada Allah.

Alangkah fana, Anakku. Alangkah fana…. Maka apakah engkau akan sibuk mengejarnya?

Sementara apabila engkau meraih kecintaan Tuhanmu, Anakku, Ia akan memaklumkan kecintaan-Nya kepada para malaikat. Lalu para malaikat itu akan memaklumkan kecintaan itu kepada hati manusia, sehingga mereka berbondong datang kepadamu sekalipun engkau bersembunyi di balik goa. Mereka datang kepadamu dengan penuh kecintaan, dan kecintaan itu datang dari Tuhanmu. Mereka akan siap melindungimu dan membantumu, kapan saja. Tetapi jangan engkau keliru menyangka, sehingga menganggap mereka sebagai penolongmu.

Tidak.

Sekali-kali tidak. Sesungguhnya tidaklah mereka menjadi penolongmu melainkan karena Allah semata.

Anakku…

Kunamakan engkau Muhammad Husain As-Sajjad agar engkau bersujud kepada-Nya. Sujudkan badanmu agar engkau termasuk golongan orang-orang ahli ‘ibadah. Sujudkanlah hatimu agar engkau menjadi seorang mukmin; seorang yang mengimani-Nya dengan lurus. Sujudkanlah pikiranmu agar engkau termasuk golongan ulil-albab.

Sujudkanlah jiwamu agar engkau menjadi seorang yang mencapai derajat ihsan, karena engkau senantiasa berada pada situasi seakan-akan engkau melihat Tuhanmu. Dan apabila engkau tidak melihat Tuhanmu, engkau yakin dengan sepenuh hati bahwa Ia mengawasimu.

Sujudkan pula harta dan duniamu, agar tidak pernah menguasai hatimu. Sesungguhnya harta itu letaknya dalam genggamanmu. Bukan pada hatimu. Apabila harta itu engkau letakkan di tanganmu, maka engkau akan ringan hati membelanjakan di jalan-Nya. Tetapi apabila harta itu engkau simpan dalam hatimu, maka sedikit saja yang berkurang, akan dapat menggelisahkan dirimu sehingga dengan itu justru harta yang sedang mendekat kepadamu, akan berlari sejauh-jauhnya.

Husain Anakku….

Sesungguhnya harta yang akan menjadi milikmu kelak di Yaumil-Qiyamah adalah yang engkau belanjakan di jalan yang benar. Setiap keping yang engkau jadikan shadaqah, ia akan tetap menjadi milikmu sampai Hari Kiamat. Setiap keping yang engkau bayarkan sebagai zakat, ia akan menjadi pembelamu di hari ketika tidak ada perlindungan kecuali perlindungan Allah semata.

Setiap keping yang engkau belanjakan untuk keluargamu, untuk anak-anak yatim, untuk jihad fii sabilillah, untuk amar makruf nahy munkar, untuk mengongkosi perjalananmu melakukan kebaikan, maka ia tetap menjadi milikmu dan senantiasa berlipat kebaikannya hingga engkau berjumpa di Hari Akhir kelak. Ia akan mengantarmu ke surga atas perkenan-Nya. Insya-Allah.

Tetapi, Nak…

Karena sekeping uang pula manusia bisa terhalang dari Tuhannya. Tidaklah disebut pendusta agama orang yang pendek-pendek do’anya dan ringkas shalatnya. Tidak.

Tetapi tahukah kamu orang yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mengajurkan memberi makan orang miskin. Maka, kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yakni orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya’ dan enggan (menolong dengan) barang berguna. Begitu peringatan Tuhanmu dalam surat Al-Maa’uun. Kelak engkau bisa membacanya dalam Al-Qur’an.

Hanya Do’a Yang Kupinta Apa yang kuharapkan dengan pesan-pesan ini, Anakku?

Aku sayangi dirimu sejak engkau belum dilahirkan; Aku tunggui persalinan ibumu hingga terdengar tangismu; Aku bersihkan darah yang mengiringi kelahiranmu dengan tanganku sendiri; Aku temani masa-masa bayimu dengan membacakan do’a di telingamu; Aku ciumi dirimu sebagaimana Rasulullah saw. mengajarkan; Dan aku nanti engkau beranjak besar, lalu kutulis pesan ini, tidak lain hanyalah berharap engkau kelak menjadi orang shalih yang memberi bobot kepada bumi ini dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Betapa pun bapak dan ibumu hanya dua orang yang lemah imannya, lemah ilmunya dan lemah jiwanya. Tidak ada kekuatan kecuali semata-mata dari-Nya.

Besarnya pengharapan inilah yang menjadi kekuatan bapak ibumu dalam mengasuh dan membesarkanmu. Kalau kemudian kelak engkau menjadi anak yang shalih –dan bapak ibumu senantiasa berharap dengan penuh kesungguhan—maka tidak ada yang lebih berharga untuk diharapkan darimu melebihi do’a-do’a yang engkau panjatkan dengan tulus kepada Allah ‘Azza wa Jalla bagi kedua orangtuamu ini. Harapan inilah yang membuat bapak ibumu bersedia mengorbankan apa saja, termasuk kesehatan, asalkan kelak engkau termasuk di antara waladun shalihun yad’ulah. Anak shalih yang mendo’akan.

Inilah yang senantiasa merisaukan orangtuamu, Anakku, bagaimana mengantarkan engkau menjadi waladun shalihun yad’ulah. Jika engkau termasuk anak yang shalih, maka setiap perbuatanmu dapat menjadi kebaikan bagi orangtuamu. Dan jika engkau mendo’akan bapak ibumu, maka Allah akan bukakan pintu-pintu kebaikan.

Kebaikan itu akan terus mengalir apabila engkau mendo’akan, sekalipun bapak ibumu telah berselimut kain kafan.

Tetapi sekedar mendo’akan, Anakku… tanpa ada keshalihan yang mengiringi do’a-do’a itu, rasanya akan sia-sia. Sebab, seperti yang engkau baca, anak-anak yang bisa menambah catatan kebaikan bagi kedua orangtuanya sesudah kematian menjemputnya adalah anak-anak shalih yang mendo’akan. Ini berarti engkau harus menjadi manusia shalih ketika mendo’akan.

Tanpa keshalihan, do’a itu akan melayang begitu saja. Apalagi do’a itu bukan engkau sendiri yang mengucapkan. Dan betapa banyak kulihat, di kala seorang anak Adam meninggal dunia, para tetangga mendo’akan si mati, sementara anak-anaknya mengaminkan pun tidak. Mereka menyibukkan diri dengan makanan yang akan dihidangkan.

Sungguh, sesuatu yang absurd. Lebih-lebih di antara para pendo’a itu terkadang ada yang menjadi ahli maksiat. Wallahu a’lam bishawab.

Sumber: Hidayatullah.com
Penulis adalah kolumnis majalah Hidayatullah

Friday, April 24, 2009

Apakah it Emas...? Bukan
Apakah it Intan...? Bukan
Apakah it Uang...? Bukan
Apakah it Minyak...? Bukan

Lalu apa yang Anda pikirkan....?

PERAMPOKAN TERBESAR di ABAD Ke-20 adalah...


Palestinian Loss of Land 1946 to 2000




Stage I
1946 - Pemukiman Yahudi terkotak kotak di Palestina

Stage II
1947 - Campur tangan PBB memperluas pemukiman Yahudi

Stage III
1949-1967 - Perluasan perampokan tanah PALESTINA oleh ISRAEL

Stage IV
2000 - Kini Luas PALESTINA semakin menyusut...

Hampir semua orang tidak tahu fakta yang sesungguhnya.

Wednesday, April 22, 2009


Oleh: MS. Yusuf al-Amien *
----
Tugas utama Rasulullah adalah membawa perubahan. Menerangi yang gelap, memberantas yang bathil. Ada realitas, ada prioritas.
----


Pada masa itu peradaban dunia sangatlah kacau, baik di Barat maupun Timur. Keadaan umat manusia sungguh memprihatinkan. Di Barat, orang sudah tidak lagi percaya akan Sang Pencipta, mereka hanya memiliki filsafat untuk menyembah akal. Di Timur, kebodohan menyeret mereka untuk menuhankan patung, berhala, bintang api, dan mentari.

Di jazirah Arab, mereka membunuh bayi perempuan, menganggap wanita bukanlah “manusia”, menjadikan yang lemah sebagai hamba sahaya untuk dijual-belikan dalam komoditi perbudakan.

Itulah gambaran ‘ashru-l-fatrah saat itu. Yaitu masa kealpaan seorang Rasul dari peradaban manusia, semenjak terakhir kali Allah menurunkan Nabi Isa ‘alaihissalam. Masa itu adalah saat di mana umat manusia kering akan wahyu Ilahi yang dapat membimbing mereka kepada ajaran yang benar (lih: Tafsir Ibnu Katsir QS. Al-Maidah: 19).


Oleh karena itu, Allah kemudian mengutus seorang Rasul terakhir, Rasul yang membawa risalah akhir zaman untuk seluruh umat manusia, menunjukkan kepada mereka akan hakekat alam semesta. Dialah Muhammad bin Abdullah, utusan terakhir yang membawa misi agung untuk mengubah keadaan manusia dari keterpurukan multi-dimensi menuju sebuah kejayaan duniawi-ukhrawi.

Misi Perubahan

Tugas utama Rasulullah Muhammad saw adalah membawa perubahan global. Mengubah berarti memperbaiki, memutihkan yang hitam, menerangi yang gelap, menjadikan yang jahil menjadi mengerti, memberantas yang bathil, dan menegakkan yang haq. Persis dengan misi yang dibawa oleh para Rasul sebelumnya. Hanya saja, Muhammad saw. adalah Rasul Universal (rahmah li-l-‘alamin), bukan parsial. Itu artinya tugas yang ia bawa lebih besar dan sangat berat.

Oleh karena itu dalam mengemban misinya, Rasulullah selalu dibimbing wahyu dari langit tentang di mana, kapan, dan bagaimana caranya perubahan itu dibumikan.

Aspek Realitas

Dalam membawa perubahan di zaman yang serba amburadul itu, Rasulullah dituntut dapat membaca kondisi sosio-kultural umatnya, sehingga ia dapat menyusun strategi jitu agar perubahan tersebut berhasil diterapkan.

Contoh kecilnya ketika Rasul membawa misi bahwa minuman keras itu dapat merusak akal. Itu berarti miras (khamr) hal yang terlarang (haram), namun realita mengatakan bahwa minuman keras merupakan hal yang telah mendarah-daging bagi bangsa Arab saat itu. Maka sebuah hal yang sangat amat susah sekali untuk mengubah adat mereka dari yang alkoholik hingga tiba-tiba insyaf dan meninggalkan miras.

Dari observasi realita di lapangan ini, maka siasat tercerdas untuk mengharamkan khamr adalah dengan melalui proses yang bertahap. Maka turunlah pada tahap pertama ayat an-Nahl: 67 yang mengatakan bahwa khamr itu berasal dari sari-pati buah Anggur dan Kurma yang dapat diambil darinya kebaikan dan dapat diambil juga madharat (karena dapat memabukkan), lalu selanjutnya turun ayat al-Baqarah: 219 yang mengatakan bahwa khamr itu ada manfaatnya, akan tetapi madharat-nya lebih banyak.

Selanjutnya Allah menurunkan ayat an-Nisa: 43 yang melarang seseorang untuk shalat dalam keadaan mabuk. Hingga pada akhirnya secara eksplisit dan tegas Allah mengharamkan khamr yang dapat merusak akal pikiran dan merupakan pekerjaan setan yang terkutuk (al-Maidah: 90-91).

Pengharaman khamr adalah salah satu dari sekian banyak pensyariatan yang dilakukan secara gradual dan melalui transmisi bertahap. Bahkan Al-Qur’an sebagai pedoman dan kumpulan risalah Islam juga turun secara berangsur dalam masa 23 tahun (lih: Tafsir Ibnu Katsir: al-Isra’ 106). Ayat-ayat Al-Qur’an juga turun sesuai dengan konteks kejadian (asbab nuzul) agar lebih “terasa membekas” dan dapat diterapkan secara istiqamah (QS. al-Furqan: 32).

Aspek Prioritas

Sudah barang pasti, Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw. adalah sebuah risalah perubahan yang terhimpun dari norma-norma yang dapat mengentas manusia dari kebobrokan menuju perbaikan. Menyembah berhala adalah sebuah ‘kebobrokan’. Dengan demikian hal tersebut harus dihilangkan untuk menuju ‘perbaikan’, yaitu menyembah Dzat Yang Maha Pencipta.

Ajaran Tauhid inilah yang paling fundamental dan lebih prioritas dibanding kewajiban ibadah lainnya. Oleh karenanya, selama 13 tahun Rasulullah berada di Mekah, hanya Tauhid-lah yang terus menerus didakwahkan kepada masyarakat Arab yang saat itu masih menyembah laata dan ‘uzza –tanpa satu pun menghancurkan berhala mereka.– Sedangkan konsep muamalat, hudud, qishas, jihad dan syariat lainnya –yang juga merupakan ajaran Islam– datang di kemudian hari pasca Hijrah ke Madinah.

Telaah Prioritas muncul ketika adanya suhu pertentangan dalam sebuah kasus, yaitu ketika situasi tidak memungkinkan untuk dilaksanakannya dua hal secara bersamaan, atau ketika sesuatu belum dapat diterapkan secara sempurna. Oleh karenanya, akidah Tauhid lebih dikedepankan karena tidak mungkin saat itu juga masyarakat diwajibkan untuk shalat, puasa, zakat maupun haji –meskipun syariat tersebut telah terdapat dalam millah Ibrahim. Lebih baik mereka cukup bertauhid kepada Allah dulu daripada menyembah ‘uzair, lebih baik mereka bersyahadat dulu daripada tidak sama sekali. Singkat kata, “better one than zero”.

Tangga Perubahan

Perubahan memang harus melalui fase-fase bertingkat. Fase yang dilalui tersebut tentu tidak bisa lepas dari analisa lapangan untuk memahami aspek Realitas dan Prioritas. Jika kita pikir, adakah yang menghalangi Allah dengan Kemahakuasaan-Nya untuk menurunkan Al-Qur’an sekali tempo lengkap dengan segala syariat yang kontan harus ditunaikan oleh hamba-Nya? Kenapa pula Allah menciptakan alam semesta dalam 6 masa padahal Ia mampu menciptakannya hanya dengan sekali “Kun!”? Jawabannya adalah; bahwa itu semua merupakan Sunatullah yang harus kita ambil i’tibar dalam hidup kita.

Oleh karenanya, manusia diberikan karunia termulia berupa akal, tidak lain agar manusia dapat berpikir, menganalisa, mentadaburi, hingga kemudian menghasilkan pemikiran yang sehat, lalu barulah berbuat.

Penulis jadi teringat kembali akan fatwa MUI tentang haramnya Golput. Pertama kali mendengar, penulis sempat terhenyak kaget; kenapa haram? Darimana kesimpulan ini dapat dihasilkan? Akan tetapi di sisi lain, secara nalar sehat para ulama itu adalah fakih yang jauh lebih mengenal dan faham betul tentang apa itu syariat Islam, konsep sebuah daulah, sistem demokrasi, hingga kriteria ideal seorang pemimpin. Bagi saya atau bagi kita semua, akan ada statemen penting. Fatwa MUI-nya yang salah atau kita yang belum tahu?

Namun belakangan hari penulis mulai mengerti, bahwa MUI ternyata memiliki pandangan futuristik dengan melakukan tinjauan aspek realitas dan prioritas masyarakat Indonesia. Penulis mensinyalir bahwa MUI tengah membuat skenario Misi Perubahan yang besar dan Fatwa itu hanyalah sebuah episode pertama dari rentetan episode bersambung lainnya yang mungkin belum ditayangkan.

Realitanya, Indonesia adalah negara republik yang menganut sistem demokrasi dengan pemilu sebagai cara untuk memilih pemimpin. Persis dengan bangsa Arab jahiliyah yang saat itu terlanjur kecanduan khamr. Prioritasnya, lebih baik negeri ini memiliki pemimpin daripada harus menganut sistem anarki (tanpa pemimpin) yang mafsadat (kerusakannya) jauh lebih parah. Lebih baik mengangkat pemimpin yang adil daripada yang kurang adil, atau lebih baik yang agak baik daripada yang tidak baik sama sekali. Singkat kata, “tiada rotan akar pun jadi”.

Dengan demikian “Haram Golput” sebenarnya memiliki arti “Wajib Memilih”. Memilih siapa? Tentu memilih lebih yang baik, bertakwa dan memperjuangkan syariat, atau setidaknya menuju titik ideal tersebut. Karena tidak mungkin seluruh penduduk Indonesia semuanya orang fasik. Walaupun minimal, tentu di sana masih terdapat orang-orang yang memegang teguh kebenaran dan mereka wajib dijadikan pemimpin.

Atau jika saja secara subyektif kita menilai semua orang adalah fasik, tiada calon pemimpin yang adil, maka saat itu pula kita harus berani bertanggungjawab atas tuduhan tersebut dengan menawarkan alternatif dan mengajukan seorang pemimpin yang tidak fasik. Karena kalau hanya dapat menyalahkan, tanpa dapat memberi perbaikan tentu bukanlah sebuah solusi. Hanya dapat berteori, tapi tidak mampu beraksi sama juga bohong. Maka tidak perlu mendakwa perubahan jika harus melangkahi Sunatullah, apalagi sampai menyalah-nyalahkan Ulama', na'udzubillah.

Dalam hal ini pula MUI sebenarnya telah berusaha untuk memberikan sebuah solusi dengan menciptakan episode-episode perubahan yang berawal dari “Wajib Memilih” pemimpin ideal. Episode selanjutnya mungkin DPR akan didominasi oleh para wakil rakyat yang faham agama –lantaran hasil pemilihan sebelumnya,– hingga secara lambat-laun syariat Islam dapat diterjemahkan dalam Undang-undang, demokrasi kian terkikis, dan ending-nya Daulah Islamiyyah pun akan kembali terlahir sebagaimana dulu pada masa Khulafa Rasyidin. Agak bermimpi memang, namun inilah harapan logis.

Tapi terkadang kita sebagai “penonton” kurang sabaran dan maunya langsung menuju episode terakhir. Maunya langsung menuju lantai sepuluh, tanpa meniti dari lantai satu. Maunya instant dan simsalabim! Semuanya berubah. Sehingga ketika stasiun televisi baru menayangkan episode pertama, kita buru-buru menyalahkan sutradara akan alur-ceritanya yang terkesan janggal itu.

Di lain sisi, terkadang kita juga merasa pesimis, dengan keadaan yang sedemikian rupa, apakah episode terakhir itu hanya akan datang kelak ketika munculnya Imam Mahdi? Ataukah happy-ending itu baru akan tiba nanti ketika turunnya Nabi Isa? Wallahu a’lam, sebagai manusia kita hanya diperintahkan untuk berpikir dan berbuat, Allah jua-lah yang menentukan.***

*Penulis adalah alumnus KMI Gontor, kini menjadi mahasiswa yang tengah menyelesaikan program Licence, konsentrasi Hukum Islam di Universitas Al-Azhar Kairo. Email: yusuf_677@yahoo.com

[sumber: hidayatullah.com]

Tuesday, April 21, 2009




By: Om Wied [Musafir Halmahera]
---------------------------------
Membaca Manusia Kecil dari Ust. Anis Matta yang menyembul di layar monitor terselip diantara file “syahwat dunia” mengajak sesaat untuk merenungi perjalanan hidup, terlebih bagi kader dakwah. Sejenak terlintas dalam pikiran, pesan makna hidup manusia yang jangan hanya meninggalkan tiga kalimat yang terpahat dalam seonggok batu nisan: Si fulan bin fulan, Lahir tanggal sekian, Wafat tanggal sekian.

Hiruk pikuk pesta demokrasi yang hampir satu tahun mengalirkan dinamika kehidupan bagi para kader dan juga partai. Terkadang angin semilir namun tidak jarang “badai” menerpa. Dari sanjungan hingga caci maki menyapa Partai Kita Semua. Berbagai analisa dipublikasikan baik yang menguntungkan maupun yang merugikan, pro dan kontra yang menambah “bumbu” hajatan politik. Pembentukan opini dan “memelintir” berita dari nara sumber tak lepas dari kepentingan “menarik” simpatisan.

Disinilah peran soliditas kader mengemuka, nilai-nilai dakwah yang diusung mengajak mereka mengesampingkan ego dalam bersikap menghadapi perbedaan. Berpegang teguh pada tali Allah sungguh amatlah berat. Namun, “Kebaikan yang tidak dikelola dengan baik akan dikalahkan kejahatan yang dikelola dengan baik” begitu nasihat Ali Bin Abu Thalib Ra. Partai ini sudah menyatakan inklusif, terbuka. PKS mencoba meng-aplikasi-kan tahapan tahapan dakwah yang disampaikan dalam tarbiyah. Bagi kader tentu tak asing ditelinga Tabligh / Ta’rif, Ta’lim dan Takwin yang menuntut kader berperan secara maksimal. Cerdas menempatkan posisi kepada siapa ia berbicara. “Berbicaralah dengan bahasa mereka”, begitu Rasulullah dalam sabdanya.

PKS sudah menjelma bak Umar Ibnu Al Khathab yang konon Syaithan pun enggan berpapasan dengannya. Tapi, tidak sedikit Kader yang masih membawa “keraguan” dalam jamaah dakwah ini. Mempertanyakan kembali komitmen nilai nilai yang usung sebagaimana diawal kelahirannya. Tentu sah-sah saja dan juga tidaklah salah mereka bertanya, seperti 'Musafir' yang membutuhkan uluran semangat untuk berlari guna menyamakan langkah yang tertinggal. Dan rasa syukur Musafir pun terucap, tatkala jalan dakwah nan berliku, bahkan terjal terasa ringan. Seringan debu dalam derap langkah barisan dakwah.

Sirah Nabawiyah yang selalu kita jadikan rujukan, memberikan gambaran dengan jelas tatkala Abdullah bin ‘Ubay, Musailamah Al Kadzab memainkan peran 'muslihatnya'. Akan selalu ada orang yang selalu mnggadaikan kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia yang hanya sesaat. Namun tentu juga ada orang seperti Khalid bin Walid, yang kelak di kemudian hari mampu berkata : “SAYA TIDAK BERJUANG UNTUK UMAR…!!, sekarang saya bebas menjemput Syahid di medan Jihad. Karena saya hanya berjuang untuk Allah!” tatkala surat dari Amirul Mukminin diterima tentang pencopotannya sebagai panglima.

Bagaimana dengan Antum, ya Akhi…

Halmahera Utara, 4 November 2008

Sumber: pkspiyungan

Sunday, April 19, 2009


Minggu siang di sebuah mal. Seorang bocah lelaki umur delapan tahun berjalan menuju ke sebuah gerai tempat penjual eskrim. Karena pendek, ia terpaksa memanjat untuk bisa melihat si pramusaji. Penampilannya yang lusuh sangat kontras dengan suasana hingar bingar mal yang serba wangi dan indah.

“Mbak sundae cream harganya berapa?” si bocah bertanya.

“Lima ribu rupiah,” yang ditanya menjawab.

Bocah itu kemudian merogoh recehan duit dari kantongnya. Ia menghitung recehan di tangannya dengan teliti. Sementara si pramusaji menunggu dengan raut muka tidak sabar. Maklum, banyak pembeli yang lebih “berduit” ngantre di belakang pembeli ingusan itu.

“Kalau plain cream berapa?” Dengan suara ketus setengah melecehkan, si pramusaji menjawab, “Tiga ribu lima ratus”. Lagi-lagi si bocah menghitung recehannya,

” Kalau begitu saya mau sepiring plain cream saja, Mbak,” kata si bocah sambil memberikan uang sejumlah harga es yang diminta.

Si pramusaji pun segera mengangsurkan sepiring plain cream.Beberapa waktu kemudian, si pramusaji membersihkan meja dan piring kotor yang sudah ditinggalkan pembeli. Ketika mengangkat piring es krim bekas dipakai bocah tadi, ia terperanjat. Di meja itu terlihat dua keping uang logam limaratusan serta lima keping recehan seratusan yang tersusun rapi. Ada rasa penyesalan tersumbat dikerongkongan. Sang pramusaji tersadar, sebenarnya bocah tadi bisa membeli sundae cream. Namun, ia mengorbankan keinginan pribadi dengan maksud agar bisa memberikan tip bagi si pramusaji.

Pesan moral yang dibawa oleh anak tadi: setiap manusia di dunia ini adalah penting. Di mana pun kita wajib memperlakukan orang lain dengan sopan, bermartabat, dan dengan penuh hormat.

Sumber: ryzahanuha.blogspot.com

Friday, April 17, 2009

Assalaamu'alaikum wr. wb.

Sugeng Rawuh dateng Blog Muthia Zulfa,

Terus terang, ini hanya bersifat coba-coba aja... dari BAWANG KOTHONG alias tidak tahu dunia blog.

Aku ingin BELAJAR TERBANG di dunia maya ini...

Terima Kasih.

Muthia