Monday, August 24, 2009

Oleh: Abi

Kasus pemboman di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton masih berbuntut panjang. Terorisme untuk mendiskreditkan umat Islam ini seolah mendapat momentum yang tepat di bulan Ramadhan. Rencana Polri memasang 'mata'-nya di setiap ceramah mengamini hal itu!

Pada era Orde Baru, bangsa ini memandang komunis sebagai musuh negara. Segala sesuatu yang berbau ajaran ideologinya harus dimusnahkan. Organisasinya terlarang, sedang orangnya dikebiri hak-hak hidupnya. Bahkan untuk mengenyam pendidikan harus ada surat pernyataan terbebas darinya.

"Kita harus waspada terhadap bahaya laten komunis," begitu kira-kira nya bunyi doktrin yang masuk ke setiap anak bangsa.

Sedang di sisi lain, suara umat Islam dibungkam. Belum adanya kebebasan pers membuat banyak kasus pembantaian tak tahu rimbanya. Ada DOM di Aceh, kasus Tanjung Priok, Malari, dan masih banyak lagi baik karena (dianggap) sesat ataupun (dianggap) subversif.

Atas nama Demokrasi dan HAM, Reformasi 1998 menjadi tonggak awal kebebasan berpendapat dan berserikat bagi anak negeri. Beberapa harakah Islam pun bermunculan setelah sebelumnya dihadang dengan represif.

Melihat kenyataan bahwa Islam mulai bangkit meski masih dalam harakah yang berbeda-beda dan belum seiring sejalan, namun tetap membuat Zionist International gusar. Kecilnya peluang membasmi 'jamur yang tumbuh di musim hujan' karena HAM, memaksa kaum kufar memeras otak. Langkah yang paling tepat (menurut mereka) tentu dengan isu terorisme. Suatu perang opini yang paling mujarab untuk membuat umat Islam tersudut.

Itulah sebabnya, Indonesia menjadi target Zionist menghadang kebangkitan Islam dengan berkedok perang melawan terorisme. Apalagi aparat keamanan (Polri) ikut larut terpancing skenario mereka dengan mengawasi ceramah Ramadhan. Padahal justru seharusnya Polri berkoordinasi dan bekerjasama dengan para ustadz dan ormas Islam dalam menangani para teroris itu. Ada rasa waswas di hati umat dalam Ramadhan tahun ini.
Wallahu a'lam bishawab.

By: Abdi Darma Jakarta

Arti puasa (shiyam) menurut bahasa adalah ‘menahan diri'. Menurut syara', pengertian puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkannya mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari, karena perintah Allah semata-mata, dengan disertai niat dan syarat-syarat tertentu.

Menahan diri atau mengendalikan diri dari segala hal yang membatalkan puasa adalah segala hal yang terkait dengan pelampiasan nafsu, seperti makan, minum, pancaindra, nafsu seksual, emosi, dan lain-lain.

Aplikasi puasa yang sesuai dengan pengertian puasa di atas adalah sebagai berikut:
1. Makan dan minum lebih sederhana dan lebih sedikit dari biasanya.
2. Hubungan sosial menjadi lebih baik karena pengendalian diri dan emosi yang lebih baik. Tindakan kekerasan dapat dicegah.
3. Belanja kebutuhan sehari-hari menjadi lebih irit.

Jika puasa sudah dilaksanakan sesuai dengan pengertian yang benar, maka hikmah puasa yang didapat adalah:
1. Kesehatan menjadi lebih baik karena mampu mengendalikan diri untuk makan dan minum dengan sederhana.
2. Batin lebih tenang dan ibadah menjadi khusyuk.
3. Belanja kebutuhan sehari-hari menjadi lebih irit sehingga bisa menabung. Para pedagang tidak bisa menaikkan harga seenaknya, bahkan terpaksa menurunkan harga.
4. Tujuan puasa untuk menjadi orang yang takwa bisa dicapai dengan kemungkinan lebih besar.

Kenyataan menunjukkan bahwa puasa sering dilaksanakan dengan aplikasi yang tidak sesuai dengan pengertian yang benar.

Kesalahan aplikasi puasa dan akibat buruk yang selalu terjadi setiap tahun adalah:
1. Makan dan minum menjadi lebih banyak dan lebih mewah dari pada biasanya. Bahkan, makanan dan minuman yang biasanya tidak dikonsumsi, pada bulan puasa dijadikan tradisi untuk dihi dangkan, seperti kolak, es buah, berbagai macam makanan ter tentu, dan sebagainya.
2. Buka puasa menjadi balas dendam dengan menyantap berbagai jenis makanan dan minuman. Akibatnya, kesehatan terganggu, perut kembung, sering mau buang angin ketika shalat, ibadah menjadi tidak khusyuk.
3. Pengeluaran kebutuhan sehari-hari meningkat dan hal ini diman faatkan oleh para pedagang untuk menaikkan harga seenaknya, sejak sebelum puasa dan menjelang Idul Fitri.
4. Tujuan puasa untuk menjadi orang yang takwa lebih sulit dicapai seperti yang dikatakan sebuah hadis bahwa banyak orang berpuasa tapi hasilnya hanya lapar dan haus.

Uraian di atas menunjukkan betapa besarnya hikmah puasa yang bisa kita dapatkan dari segi spiritual, kesehatan, sosial, dan ekonomi jika puasa dilakukan sesuai dengan pengertian yang benar. Sebaliknya, jika puasa tidak dilaksanakan dengan pengertian yang benar, maka kita akan kehilangan hikmah puasa setiap tahun. Bahkan lebih dari itu, kita akan menderita kerugian dan penderitaan dengan adanya kenaikan harga-harga setiap kali memasuki bulan puasa.

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan renungan yang bermanfaat bagi kita sesama Muslim yang menjalankan ibadah puasa.

sumber: republika

Saturday, August 22, 2009














Derasnya arus cinta bermuara di lautan ikhlas,
Berujung menyatu dalam kasih dan ketulusan,
Menghapus sekat sekat nurani anak manusia,
Menggapai Maghfirah dalam Ridha-Nya.

Disaat nafas-nafas menjadi tasbih,
Tidurpun bernilai ibadah,
Amal-amal diterima berlipat ganda,
Doa-doamu senantiasa diijabah,

Maka,
Tak layak untuk tidak merengkuh Rahmah-Nya,
Tak layak abai dalam Ridha-Nya,
Bersegera menuju Maghfirah-Nya

Marhaban Yaa Ramadhan
Selamat menunaikan Ibadah Puasa
Mohon maaf atas segala salah dan khilaf

Regards,
Abi, Ummi, Muthia & Khansa

Friday, August 7, 2009

Oleh: Ibnu Jarir, Lc

Alhamdulillah.. segala puji hanya bagi-Mu Ya Allah, kepada-Mu seluruh wajah-wajah tertunduk khusyu’. Ya Allah Engkaulah yang Maha menyelamatkan hamba-hamba-Mu yang terperosok ke lembah hubbuddunya’ kepada kemuliaan dan indahnya akhirat dengan jannah-Mu.

Subhanaaka…Maha Suci Engkau…, dengan kasih sayang-Mu, Engkau hadirkan Ramadhan ke tengah hamba-hamba-Mu yang sedang terhimpit dan tertindih berbagai beban dosa dan maksiat, tantangan dan rintangan, tekanan dan permusuhan dari orang-orang yang ingin mencelakakan kami dengan hasad dan dengki di hati mereka . Kami sadar Ya Allah, ini semua adalah ujian dan cobaan hidup untuk kami, yang dengan ujian ini Engkau hendak meninggikan derajat bagi siapaun yang lulus dari ujian-Mu, dan Engkau hinakan bagi siapapun yang gagal dari segala ujian-Mu. Ya Rabb… kadang derap langkah kaki ini, dalam menapaki tangga ke dekapan-Mu, terasa sangat berat, Ya Allah…sungguh tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Mu.

Tabaaroka…, Maha Suci Engkau Ya Allah…., Pemberi keberkahan, Engkau berkahi hidup kami untuk berjumpa dengan Ramadhan-Mu, bulan dengan sejuta makna dari kebaikan. Di bulan ini Engkau bentangkan kesempatan untuk bertaubat, mendapatkan maghfirah, rahmat dan kebebasan dari neraka. Engkau kokohkan ruh jihad, Engkau tarbiyah kami untuk memahami kesejajaran rasa antar sesama hamba dengan jiwa sabar dan ukhuwwah. Engkau beri kesempatan pada kami untuk lebih banyak menghidupkan sunnah Rasul-Mu. Engkau hidupkan ruhiyah dan semangat kami untuk selalu bertaqorrub kepada-Mu. Dan Engkau seru hamba-hamba-Mu : Ya faa’ilal khoir aqbil…( wahai pemburu kebaikan, sambutlah…….)

Pintu ampunan terbuka luas, kesempatan taubat tersedia, pintu-pintu jannah telah terbuka lebar, adakah kita menyadari itu?, tidakkah kita sambut seruan dari-Nya untuk berlomba-lomba memasuki Romadhon dengan amal sholeh kita? ataukah kita terlantarkan kebaikan itu? Bukankah di bulan Ramdahan ini pintu-pintu neraka telah Allah kunci rapat-rapat ? akankah kita paksa dan kita dobrak dengan kemaksyiatan dan kelacuran serta ghoflah yang tiada henti-hentinya kita lakukan?. Bukankah setan-setan telah Allah belenggu ? akankah kita terus-menerus mengikuti seruan-seruannya sambil menutup mata hati dan pendengaran kita…? lalu kita terjang aturan Allah semau kita? Ya Allah, makhluk macam apakah kami ini, Engkau telah memberikan kesempatan kepada kami untuk datang kepada-Mu di bulan Ramadhan ini, namun banyak pelanggaran yang terus kami lakukan dan kami tidak pandai memanfaatkan kesempatan yang berharga ini? Astaghfirullah… wa atuubu ilaik..

Sungguh tatapan Rabb kita, terhadap mata-mata kita yang nanar dengan seenaknya memandang kesana kemari tanpa kendali…, yang sedikit menangis karena sesal dosa dan takut dahsyatnya siksa…, Dia tahu apa yang dikhianati oleh mata-mata kita, Allah sangat jeli dengan apa yang ada dalam benak kita, Allah Maha Mendengar apa yang didengar oleh telinga-telinga kita yang dengan leluasa mendengar suara-suara maksiyat, Allah Maha meneropong segala gelimang dan lumuran dosa hamba-Nya dan Allah sergah : Yaa baaghiyas syarr aqshir…. (wahai pelaku-pelaku kejahatan berhentilah…..), Ya Allah karuniakan kami rasa takut kepada-Mu yang menghalangi kami dari bebuat maksiyat kepada-Mu…

Kitab Al Qur’an yang mulia penuh bimbingan kepada kita, penghidup hati dan pikiran kita, pencerah dan pemompa motivasi kita, penunjuk jalan hidup kita, penyejuk jiwa-jiwa kita, pemberi info siapa saudara dan musuh kita, Kitab itu ada di hadapan kita, apa yang sudah kita lakukan ! adakah kita membacanya.? Mentadabburinya? Menghafalkannya? Mengamalkannya.? Alangkah Ghaflahnya kita ….. mungkinkah kita beroleh syafa’at-Nya?

Qiyamullail jalan yang ditempuh orang-orang shalih, sebagai sarana menggapai dekapan dan ridha-Allah Swt, sumber inspirasi dan wibawa kita, apakah dengkuran tidur serta selimut menggelayuti kita lalu melewatkannya?, tidakkah kita ingin merasakan kelezatan rahmat-Nya, meraih cinta-Nya dan mendapatkan ampunan-Nya, dengan bermunajat kepada-Nya dikala orang lain terlelap tidur? Merugi…merugilah kita bila kita tidak melaksanakannya….

Mengosongkan perut, tidak makan siang, menahan nafsu biologis siang hari dan obrolan-obrolan tak ada guna, itukah shiyam kita ? Bagaimana dengan mata, telinga, tangan, kaki, lisan, hati dan pikiran kita ? apakah masih bermaksiyat dengan leluasa ? Yaa hasrota…. Alangkah meruginya kita.

Semoga Allah melindungi kita, untuk senantiasa mampu bermujahadah meraih ridha-Nya dan terhindar dari sabda Rasulullah saw : Roghima ‘anfu man adrokahu Ramadhan falam yughfar lahu ( celakalah dan menyesal orang yang mendapatkan kesempatan hidup di bulan Ramadhan dan ia tak beroleh ampunan).

Allahumma nasyku ilaika dhi’afa quwwatina… Ya Arhamar raahimin Anta Rabbul Mustadh’afiin, irhamna..Amin.

Sumber: Dakwatuna.com

Wednesday, August 5, 2009

Aura ‘hijrah’nya kantor DPP PKS tidak hanya dirasakan oleh kalangan elit dan di Metropolitan seperti Jakarta saja. Namun juga terasa hingga ke struktur dan kader di tingkat kampong.

Ane yang hanya berada di pinggir kampong di Kecamatan Piyungan turut merasakan semangat itu. Meski hanya bisa menyaksikan lewat jurnalis pemuda hamas yang ikut dalam Solidaritas Palestina di awal tahun baru serta lewat dunia maya ini. Namun sungguh optimisme dalam kiprah di medan dakwah semakin membara.

Itu semua, seolah melengkapi target dan evaluasi Liqoat pekanan yang menitikberatkan pada totalitas dalam dakwah. Sebuah jalan yang sangat mulia dan berharga yang akan berujung Ridha dan Syurga-Nya.

“Kita harus pertahankan semangat kita seperti sebelum Pemilu kemarin.”, Ujar Akh Danie menggelorakan semangat suatu ketika di sela-sela liqo.

“Kita hanya bisa menikmati indahnya dakwah ketika ia telah menjadi obsesi dalam diri. Total dalam Dakwah”, Ust. Abu Hasan memberi taujih liqoat pekan terakhir ini.

Inilah sinkronisasi menyeluruh dalam diri tiap kader dari tingkat pusat hingga tingkat kampong. Untuk kembali meluruskan niat dalam dakwah. Ada mutabaah, ada taujih ada tazkiyatun nafs, ada tawasaubish-shabr.

Yang futur agar kembali semangat, yang ujub dan riya’ segera insyaf dan taubat, yang kemarin berubah menjadi ‘hakim’ dadakan bisa kembali menjadi da’i. NAHNU DUAT LAA QUDHAT. NAHNU DUAT QOBLA KULLI SYAI'.

Terlebih lagi bulan mulia tak lama lagi segera hadir. Semua saling menguatkan agar umat mukmin betul betul laksana bunyanun marshush.

Maka sudah selayaknya momen 'hijrah' KANTOR DPP PKS ini kita gunakan untuk memantapkan eksistesi dakwah kita ini. Kembalikan semangat, TOTALITAS DALAM DAKWAH!

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (Q.S. At Taubah:111)

Marhaban Yaa Ramadhan. Semerbak wangimu telah kucium.


mokaton city, 5-8-09
Madinah murung. Mendung tebal serasa menyelimuti seluruh Kota Madinah. Suasana itu hadir di hati seluruh shahabat. Tanpa terkecuali. Semua menundukkan kepalanya. Semua meneteskan air matanya. Semua tersayat hatinya. Dunia kehilangan sumber cahayanya. Rasulullah mulia dipanggil oleh Rabnya.

Pemakaman Nabi menjadi klimaks kesedihan yang tak mampu diurai oleh kata-kata. Saat timbunan tanah, sedikit demi sedikit mengubur jasad mulia itu.

Dunia Islam berkabung.

3 mil dari suasana itu, tepatnya di Juruf (Dari Madinah arah ke Syam), seorang anak muda yang baru berusia 18 tahun menghentikan pasukannya. Pasukan itu telah disiapkan dan diberangkatkan oleh Nabi untuk berjihad melawan Romawi. Hawa sedih Madinah juga sampai kepada mereka. Perjalanan pasukan terhenti. Dihentikan oleh panglimanya. Usamah bin Zaid radhiallahu anhu, karena mendengar Rasul wafat.

Tetapi negara Islam segera sadar, tidak boleh larut dalam kesedihan berkepanjangan. Tugas-tugas besar menanti mereka. Untuk menjaga dan melanjutkan perjuangan Rasulullah. Negara Islam itu segera membaiat pemimpinnya. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallah anhu.

Kini kendali di tangan Abu Bakar, termasuk pengiriman pasukan Usamah. Saat itu, masalah besar tengah menghajar dunia Islam. Seluruh wilayah Islam murtad. Tidak ada yang tersisa kecuali hanya 3 kota saja: Mekah, Madinah dan Thaif. Semuanya murtad, ada yang mengikuti nabi palsu. Ada yang memisahkan antara syariat shalat dan zakat.

Pengiriman pasukan Usamah ditentang oleh sebagian shahabat senior. Umar di antaranya. Dua pertimbangannya:

1. Usia Usamah yang masih terlalu muda (18 tahun)
2. Negara Islam sedang terancam dan Madinah memerlukan pasukan untuk menjaga eksistensinya dari kemungkinan serangan orang-orang murtad

Semua orang boleh menolak dengan alasan paling logis. Termasuk orang secerdas dan sehebat Umar. Tapi semua akan berhadapan dengan Abu Bakar. Termasuk Umar.

Siapa yang tak kenal Abu Bakar. Manusia nomer satu setelah Rasul. Abu Bakar tidak sedang menjadi diktator yang tidak bisa diberi masukan atau kritik. Tetapi inilah Abu Bakar dan rahasia mengapa dia yang menjadi shahabat nomer satu. Ittiba’ (mengikut semua yang disampaikan Nabi) tanpa kompromi. Bahkan tanpa logika. Karena ini wahyu. Datang dari manusia terbaik, Rasul terbaik dengan panduan langit.

Abu Bakar dan semua shahabat tahu bahwa pasukan Usamah adalah pasukan yang dibentuk oleh Nabi. Maka inilah ketegasan Abu Bakar yang tergoyahkan oleh apapun, “Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalaupun aku tahu bahwa binatang buas akan memangsaku, aku tetap akan memberangkatkan pasukan Usamah sebagaimana perintah Nabi. Walaupun tak tersisa di wilayah ini kecuali aku seorang diri, pasukan tetap aku berangkatkan!”

Umar sempat menjadi juru bicara masyarakat Anshar menyampaikan pesan kepada Khalifah Abu Bakar, “Sesungguhnya Anshar memintaku untuk menyampaikan kepadamu; agar engkau mengangkat panglima yang lebih tua usianya dari Usamah.”

Seketika Abu Bakar melompat dari tempat duduknya ke arah Umar sambil menarik jenggot Umar, “Celakalah kamu hai Ibnu Khattab. Dia itu diangkat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sekarang kamu memintaku untuk mencopotnya?!”

Begitulah, pasukan berangkat dengan diantar langsung oleh Khalifah. Pasukan yang dipimpin oleh panglima termuda itu bertugas selama kurang lebih 40 hari.

Pasukan melaksanakan tugas besarnya. Dimulai dari suku Qudha’ah yang murtad. Usamah menang dan mendapatkan ghanimah. Kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Abil. Kemenangan juga diraihnya dengan membawa pulang ghanimah.

Subhanallah, Usamah mampu membuktikan diri di tengah ketidakpercayaan publik. Anak muda yang baru berumur 18 tahun itu, telah mengukir prestasi internasionalnya.

Bukan hanya itu, dampak dari pengiriman pasukan ini justru di luar dugaan semua orang yang mengkhawatirkan Madinah. Masyarakat Arab yang menyaksikan pergerakan pasukan Usamah mengira Madinah mempunyai kekuatan yang tidak terukur jumlah dan kekuatannya. Buktinya, masih berani mengirim pasukan Usamah keluar Madinah di tengah pemberontakan aqidah berbagai wilayah khilafah. Masyarakat Arab yang tadinya berniat jahat, jadi mengurungkan niatnya.

Subhanallah. Sekali lagi subhanallah...

Usamah anak muda itu. Sekali jalan, mampu membungkam musuh negara Islam. Dan pulang dengan kemenangan besar berikut ghanimah. Kemenangan itu membangkitkan semangat membara yang menyala di hati setiap muslim di Kota Madinah.

Usamah anak muda 18 tahun itu telah menyumbangkan kebahagiaan dan semangat saat dunia Islam berkabung dengan wafatnya Rasul dan murtadnya sebagian besar wilayahnya.

Kemanakah Usamah-Usamah muda abad 21?

رضي الله عنك يا أسامة

(Semoga Allah meridhoimu, Usamah!)

Sumber: CahayaSirah