Monday, September 21, 2009



Temaram senja telah merangkak
Gema takbir gemuruh membahana
Seiring gempita insan rayakan kemenangan

Ada rasa sedih di penghujung Ramadhan
Terbesit tanya dalam hati
Sudahkah berlalunya ia berhiaskan mutiara amal?
Akankah kita diijinkan lagi bertemu dengannya tahun mendatang?

Rasa syukur harus senantiasa terucap dalam kata
Rasa syukur harus terurai dalam raga

SELAMAT IDUL FITRI 1430H
TAQOBBALALLAHU MINNA WA MINKUM
MOHON MAAF LAHIR BATHIN


Abi, Umi, Muthia & Khansa

Thursday, September 3, 2009

Oleh: Abi

Kontroversi penanganan dan tindakan preventif pasca tragedi peledakan bom di JW Marriott dan Ritz Carlton, 17 Juli lalu, telah membuat semua pihak kalang kabut. Bak bola salju, kasus ini bergulir liar menghantam siapa saja. Pemerintah, TNI, Polri, ormas, dan parpol pun berusaha menghindarinya. Mengapa?

Apalagi isu tersebut semakin melebar dengan wacana Polri mengawasi aktivitas dakwah. Meskipun kemudian Polri membantahnya sendiri dan menyalahkan media dalam liputannya. Kekerasan tidak akan dapat diatasi dengan kekerasan pula, yang ada hanya menimbulkan masalah baru. Inilah cermin dari kepanikan dan kegagalan dalam mencegah anarki teror yang tak mampu mencari akar permasalahan.

Terorisme adalah tindakan anarkis yang sering diklaim jihad (fii sabiilillah) sebagai justifikasi tindakan para pelakunya. Padahal jihad yang secara etimologis berarti 'berjuang dengan sungguh-sungguh', merupakan tindakan yang sangat mulia dan wajib dicintai seorang muslim. (Q.S. At-Taubah:24).

Sudah banyak buku dan artikel (terutama dalam fiqh dakwah) yang mengupas jihad fii sabiilillah secara komprehensif dengan tahapan-tahapannya. Tahapan seperti jihad dalam hati (selemah-lemah iman), dengan lisan (tulisan), dengan tangan (kekuasaan), hingga jihad perang (puncak Jihad yang tertinggi), kesemuanya harus memenuhi aturan yang berlaku tiap daerah (negara).

Kurangnya pemahaman atau biasnya pembentukan opini oleh media memberikan ruang makna jihad bergeser. Walhasil umat Islam menjadi enggan untuk jihad fii sabiilillah, karena stigma negatif mengarah bahwa jihad sama dengan terorisme.

Diperlukan kerja sama berbagai pihak terutama mujahid dakwah, ustadz, dan ulama untuk kembali meluruskan arti dan kedudukan jihad di hati ummat islam. Dukungan dari umat, pemerintah, Polri, serta media dominan tanpa bias akan sangat efektif untuk memerangi terorisme.
Mengajari si kecil untuk berlatih puasa memang susah-susah gampang. Namun mengajari puasa kepada anak-anak sedini mungkin merupakan pelajaran berarti untuk masa depannya. Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi, bisa dijadikan latihan buat si kecil.

Bukan hanya untuk menjalankan ibadah tetapi mengajarkan pula bagaimana kehidupan orang yang kurang beruntung dari meraka. Banyak cara dilakukan orang tua untuk mengajarkan anak-anak berpuasa, namun tak jarang pula berbuntut pemaksaan. Untuk menghindari hal tersebut baiknya simak tips berikut ini.

1. Mengajarkan puasa sejak sedini mungkin. Tak ada kata terlalu awal bagi Anda untuk mengajarkan puasa untuk si kecil. Anda dapat memulai memperkenalkan puasa sejak anak berusia 5 tahun keatas. Saat itu tanamkan pengertian tentang puasa dan maknanya.

2. Perhatikan kondisi kesehatan anak. Mengajarkan puasa kepada anak-anak bukanlah pemaksaan. Anda juga perlu memperhatikan kesehatan mereka.

* Anak-anak tak harus puasa full satu hari, tapi buatlah jadwal kapan mereka boleh berbuka, misalnya jam 10 pagi, jam 12 siang dan jam 15 sore. Mereka boleh makan pada jam-jam tersebut dan selebihnya puasa kembali. Kalau yang sudah agak besar, bisa juga puasa 1/2 hari, jadi jam 12 siang boleh makan, lalu diteruskan lagi puasanya sampai adzan Maghrib berkumandang.
* Atur jadwal tidur mereka, biasanya pada bulan puasa, anak-anak gemar solat terawih di masjid. Jadwal solat terawih terkadang melebihi waktu tidur anak, belum lagi mereka harus di biasakan sahur. Tak ada salahnya membiarkan anak-anak tidur siang lebih lama dari biasanya untuk menggantikan tidur malam mereka.
* Bantu anak untuk selalu makan sahur. Waktu makan sahur sangat penting bagi anak karena membantu tubuh untuk mempersiapkan tak diisi seharian. Siapkan menu yang berkualitas dan bergizi tinggi agar anak tak kekurangan gizi.

3. Perhatikan pula kondisi psikologis anak. Anda harus pandai memperhatikan dan mengerti emosi anak karena dengan berpuasa emosi anak tidak stabil. Buat puasa menjadi hal yang menyenangkan dan tanpa pemaksaan. Dapat melalui latihan secara perlahan-lahan, menceritakan hal-hal menyenangkan tentang puasa atau bahkan dengan memberikan imbalan.

4. Pemberian imbalan memang tak dilarang, namun jangan menjadikan hal tersebut sebagai goal agar anak mau berpuasa. Salah-salah mereka berpuasa hanya karena menginginkan imbalannya saja. Berikan pula pengertian mengenai imbalan yang Anda berikan kepada buah hati serta kaitannya dengan puasa yang sedang mereka jalani.

5. Perhatikan pola bermain mereka. Banyak anak lupa mereka sedang berpuasa dan bermain seperti biasa yang banyak mengeluarkan keringat. Jika Anda tak pantau mereka, bukan tak mungkin mereka akan kelelahan dan akhirnya dehidrasi. Saat berpuasa, cairan yang masuk ke dalam tubuh jelas berkurang, aktivitas yang berlebihan pada seorang anak akan mengakibatkan mereka kekurangan cairan yang menyebabkan mereka jatuh sakit.

6. Saat anak-anak berpuasa, baiknya dampingi mereka sekalipun Anda sedang tak berpuasa. Anak-anak membutuhkan role model yang dapat mereka tiru, yaitu Anda sebagai ibunya.

Source: http://seputarduniaanak.blogspot.com
Published: Tuesday, 18 August 2009