Showing posts with label Pemuda. Show all posts
Showing posts with label Pemuda. Show all posts

Wednesday, August 5, 2009

Madinah murung. Mendung tebal serasa menyelimuti seluruh Kota Madinah. Suasana itu hadir di hati seluruh shahabat. Tanpa terkecuali. Semua menundukkan kepalanya. Semua meneteskan air matanya. Semua tersayat hatinya. Dunia kehilangan sumber cahayanya. Rasulullah mulia dipanggil oleh Rabnya.

Pemakaman Nabi menjadi klimaks kesedihan yang tak mampu diurai oleh kata-kata. Saat timbunan tanah, sedikit demi sedikit mengubur jasad mulia itu.

Dunia Islam berkabung.

3 mil dari suasana itu, tepatnya di Juruf (Dari Madinah arah ke Syam), seorang anak muda yang baru berusia 18 tahun menghentikan pasukannya. Pasukan itu telah disiapkan dan diberangkatkan oleh Nabi untuk berjihad melawan Romawi. Hawa sedih Madinah juga sampai kepada mereka. Perjalanan pasukan terhenti. Dihentikan oleh panglimanya. Usamah bin Zaid radhiallahu anhu, karena mendengar Rasul wafat.

Tetapi negara Islam segera sadar, tidak boleh larut dalam kesedihan berkepanjangan. Tugas-tugas besar menanti mereka. Untuk menjaga dan melanjutkan perjuangan Rasulullah. Negara Islam itu segera membaiat pemimpinnya. Abu Bakar ash-Shiddiq radhiallah anhu.

Kini kendali di tangan Abu Bakar, termasuk pengiriman pasukan Usamah. Saat itu, masalah besar tengah menghajar dunia Islam. Seluruh wilayah Islam murtad. Tidak ada yang tersisa kecuali hanya 3 kota saja: Mekah, Madinah dan Thaif. Semuanya murtad, ada yang mengikuti nabi palsu. Ada yang memisahkan antara syariat shalat dan zakat.

Pengiriman pasukan Usamah ditentang oleh sebagian shahabat senior. Umar di antaranya. Dua pertimbangannya:

1. Usia Usamah yang masih terlalu muda (18 tahun)
2. Negara Islam sedang terancam dan Madinah memerlukan pasukan untuk menjaga eksistensinya dari kemungkinan serangan orang-orang murtad

Semua orang boleh menolak dengan alasan paling logis. Termasuk orang secerdas dan sehebat Umar. Tapi semua akan berhadapan dengan Abu Bakar. Termasuk Umar.

Siapa yang tak kenal Abu Bakar. Manusia nomer satu setelah Rasul. Abu Bakar tidak sedang menjadi diktator yang tidak bisa diberi masukan atau kritik. Tetapi inilah Abu Bakar dan rahasia mengapa dia yang menjadi shahabat nomer satu. Ittiba’ (mengikut semua yang disampaikan Nabi) tanpa kompromi. Bahkan tanpa logika. Karena ini wahyu. Datang dari manusia terbaik, Rasul terbaik dengan panduan langit.

Abu Bakar dan semua shahabat tahu bahwa pasukan Usamah adalah pasukan yang dibentuk oleh Nabi. Maka inilah ketegasan Abu Bakar yang tergoyahkan oleh apapun, “Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalaupun aku tahu bahwa binatang buas akan memangsaku, aku tetap akan memberangkatkan pasukan Usamah sebagaimana perintah Nabi. Walaupun tak tersisa di wilayah ini kecuali aku seorang diri, pasukan tetap aku berangkatkan!”

Umar sempat menjadi juru bicara masyarakat Anshar menyampaikan pesan kepada Khalifah Abu Bakar, “Sesungguhnya Anshar memintaku untuk menyampaikan kepadamu; agar engkau mengangkat panglima yang lebih tua usianya dari Usamah.”

Seketika Abu Bakar melompat dari tempat duduknya ke arah Umar sambil menarik jenggot Umar, “Celakalah kamu hai Ibnu Khattab. Dia itu diangkat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan sekarang kamu memintaku untuk mencopotnya?!”

Begitulah, pasukan berangkat dengan diantar langsung oleh Khalifah. Pasukan yang dipimpin oleh panglima termuda itu bertugas selama kurang lebih 40 hari.

Pasukan melaksanakan tugas besarnya. Dimulai dari suku Qudha’ah yang murtad. Usamah menang dan mendapatkan ghanimah. Kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Abil. Kemenangan juga diraihnya dengan membawa pulang ghanimah.

Subhanallah, Usamah mampu membuktikan diri di tengah ketidakpercayaan publik. Anak muda yang baru berumur 18 tahun itu, telah mengukir prestasi internasionalnya.

Bukan hanya itu, dampak dari pengiriman pasukan ini justru di luar dugaan semua orang yang mengkhawatirkan Madinah. Masyarakat Arab yang menyaksikan pergerakan pasukan Usamah mengira Madinah mempunyai kekuatan yang tidak terukur jumlah dan kekuatannya. Buktinya, masih berani mengirim pasukan Usamah keluar Madinah di tengah pemberontakan aqidah berbagai wilayah khilafah. Masyarakat Arab yang tadinya berniat jahat, jadi mengurungkan niatnya.

Subhanallah. Sekali lagi subhanallah...

Usamah anak muda itu. Sekali jalan, mampu membungkam musuh negara Islam. Dan pulang dengan kemenangan besar berikut ghanimah. Kemenangan itu membangkitkan semangat membara yang menyala di hati setiap muslim di Kota Madinah.

Usamah anak muda 18 tahun itu telah menyumbangkan kebahagiaan dan semangat saat dunia Islam berkabung dengan wafatnya Rasul dan murtadnya sebagian besar wilayahnya.

Kemanakah Usamah-Usamah muda abad 21?

رضي الله عنك يا أسامة

(Semoga Allah meridhoimu, Usamah!)

Sumber: CahayaSirah

Tuesday, July 7, 2009

Oleh: Dr. Muhammad Mahdi Akif *)

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw, beserta keluarga dan para sahabatnya dan orang-orang yang mendukungnya, selanjutnya…

Bahwa pemuda dan pemudi kita merupakan amunisi masa depan, buah cita-cita menuju kebangkitan umat, keluar dengannya dari keterbelakangan dan keterpurukan menuju kemajuan dan kecemerlangan, ketika kita menjalankan kewajiban bersama mereka dalam tarbiyah yang benar atas iman yang murni, jiwa yang baik, akhlaq yang suci dan mulia, membangun perasaan yang hidup, bersama para pemuda umat menuju kemuliaannya, bersungguh-sungguh dalam mengembalikan kemuliaannya, melindungi agama dan negerinya, mengeluarkan harta karun yang terpendam di dalamnya, memanfaatkan sumber daya alamnya, menguasai energi dan potensinya, menghilangkan berbagai halangan dan rintangan yang menghalanginya tanpa mewujudkan misi ini, siap memikul segala penat dan beban di jalan menuju tujuan ini, demikian tujuan pertama yang dibawa Ikhwanul Muslimin, sehingga mampu mengembalikan kehormatan dan kemuliaan umat, mengembalikan kepemimpinan dan jati dirinya, mengembalikan kepada alam kemanusiaan terhadap apa yang hilang darinya berbagai hidayah dan petunjuk dan menimpa mereka akan sirnanya kebahagiaan dan kebaikan; karena Allah SWT memerintahkan agar jangan sampai melakukan dakwah dan pemikiran kecuali dengan kekuatan dan potensi pemuda, dan demikianlah Sirah Nabi saw. dan sirah para shalihin yang mengabarkan kepada kita bahwa pemuda adalah pengendali nya dan penolongnya.

Pemuda adalah tonggak kebangkitan

Pemuda dalam tubuh umat adalah sumber kekuatannya, pembuat kemuliaannya, arsitek kehidupannya, tanda menuju masa depannya, karena mereka memiliki potensi dan kekuatan, memiliki banyak waktu dan keinginan, khususnya para pelajar yang -saat ini- telah selesai melaksanakan ujian. Pemuda yang memiliki kesempatan besar untuk mendapatkan pekerjaan dan amal yang sesuai keinginan mereka, ketika para pemilik ide dan hikmah di dalam tubuh umat memiliki proyek reformasi yang jujur, benar dan sesuai dengan aqidah umat, sejarahnya dan peradabannya, mereka selalu menghadirkan para pemuda; karena mereka akan terdorong dengan penuh semangat untuk mengemban amanah ini dan berjalan dengannya menuju realisasi dan kejayaan.

Demikianlah Ibnu Abbas mengabarkan kepada kita bahwa nabi saw bersabda pada saat perang Badar:

“Barangsiapa yang melakukan ini dan ini, dan berada di tempat ini dan ini maka ia akan mendapatkan ini dan ini, maka bersegeralah para pemuda menuju apa yang disebutkan, sementara para senior (orang tua) tetap berada menjaga bendera…(Nasa’I dan Baihaqi)
Ibnu Abbas berkata: Tidaklah Allah memberikan kepada seorang hamba ilmu pengetahuan kecuali kepada para pemuda, karena banyak kelebihan dan kebaikan yang terdapat di dalamnya”, kemudian beliau membaca firman Allah:

“Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”. (Al-Anbiya:60)

dan firman Allah:

“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk”. (Al-Kahfi:13)

dan firman Allah:
“Dan Kami berikan kepadanya hikmah pada usia masih kecil”. (Maryam:12)

Oleh karena itu di antara prioritas dakwah reformasi yang penuh berkah kami ini adalah fokus pada pemuda, dan di antara karakteristiknya adalah kuatnya penerimaan para pemuda di berbagai tempat atas dakwah Ikhwan; beriman kepadanya, mendukungnya dan menolongnya, dan berjanji kepada Allah untuk bangkit dengan realistis dan bekerja di jalannya.

Konspirasi yang tertuju pada pemuda Muslim

Namun pada saat yang dibutuhkan umat peran yang banyak dari pemuda melalui adanya qudwah hasanah dalam berbagai bidang yang beragam; justru para pemuda sedang berhadapan dengan konspirasi besar dengan beragam jenis, bentuk dan sarananya; yang dilakukan oleh kelompok penguasa melalui pengendalian potensi umat dan mimbar-mimbar tsaqafiyah, media dan tarbiyah, mazhab-mazhab yang batil, dakwah-dakwah yang sesat, film-film beraroma pornografi dan pornoaksi, narkoba yang merusak dan lain sebagainya dari berbagai corak penyimpangan dan penyesatan yang beragam, hiburan yang sia-sia, dan berbagai sarana pembawa kerusakan yang hingga sekarang masih merajalela; yang bertujuan untuk melemahkan kekuatan umat Islam dan meruntuhkan pertahanannya, menghancurkan imunitasnya, menyia-nyiakan harta dan generasinya, membunuh karakternya, menghancurkan akal para pemudanya, membuat keraguan pada agama dan manhaj-manhajnya, menjauhkan antara mereka dan nilai-nilai mulia yang ada dalam sejarah mereka, memberikan pendidikan yang acuh dan cuek, mengikuti hawa nafsu dan syahwat, tidak peduli dengan berbagai urusan umat dan mereka bekerja dalam usaha menyimpangkan para pemuda dari petunjuk pada kesesatan, menyia-nyiakan waktu dan potensi mereka pada sesuatu yang tidak bermanfaat baik agama dan dunia; sehingga mereka mampu menguasai para pemuda, berusaha menjadikan obsesi salah seorang dari mereka –pemuda dan pemudi- pada fenomena yang kosong atau makanan yang enak, pakaian yang unik, kendaraan yang mewah, pekerjaan yang mengarah materi belaka dan julukan yang kering, sekalipun harus dengan beli kemerdekaannya, menginfakkan kehormatannya, dan menghilangkan hak umatnya.

Dan oleh karena itulah umat terus berada pada keterbelakangan dihadapan umat yang mengalami kemajuan, mampu dikalahkan oleh musuh karena kelemahannya… yang demikian merupakan usaha yang berkelanjutan untuk menghancurkan obsesi dan menghilangkan permusuhan atas mereka (musuh Islam), memilah-milah para pemuda umat untuk menghancurkan akhlaq mereka, ditambah dengan ikut serta mereka saat di akhirat nanti, ke dalam neraka dan azab yang pedih… na’udzubillah.

Konspirasi yang selalu menimpa para pemuda # Untuk melepaskan diri dari kesatuan berperang
Konspirasi yang selalu berkata kepada mereka; kemarilah # Kepada syahwat dibawah naungan minuman yang memabukkan

Konspirasi yang melemparkan pengaruh # Yang selalu diatur oleh syaitan pembawa kehancuran
Peran masyarakat Islam terhadap pemuda

Hendaknya diketahui bahwa masyarakat Islam membutuhkan akan pengerahan potensi yang besar untuk menghidupkan iman dalam jiwa pemuda, menumbuhkan perasaan tanggungjawab dari jiwa pemuda, baik dari para orang tua, kaum ibu, para guru, para duat, cendekiawan, wartawan dan pemimpin politik; akan pentingnya kerja sama, saling tolong menolong, dan mengerahkan segala potensi dan kekuatan dalam mengalihkan pemuda umat dari apa yang dapat membahayakan mereka agamanya, akhlaqnya dan kesehatannya, mendistribusikan kekuatan mereka kepada sesuatu yang memberikan manfaat untuk umat, dan kami melihat bahwa jalan untuk menuju hal tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Memberikan pendidikan kepada para pemuda untuk hidup di bawah naungan risalah yang mulia, membentengi mereka dengan ilmu pengetahuan dan kesadaran, dan mengobarkan semangat kesadaran yang terdiri pada ajaran Islam yang dapat merasuk dalam jiwa mereka, dan apa yang seharusnya menjadi kewajiban para pemuda akan istiqamah (integritas) dan I’tidal (sikap lurus), sesuai dengan manhaj (Platform) Islami; sehingga mampu menjalankan tugas-tugas berat, dalam memberikan pelayanan agama, nusa dan bangsa mereka. Dan saya menyeru kepada seluruh universitas dan lembaga-lembaga ilmiah; milik pemerintah dan swasta, dan kelompok –kelompok yang memiliki perhatian terhadap kemajuan umat masa sekarang dan masa depan bangsa untuk memperhatikan hal ini, dan itu berarti mendidik pemuda bangsa dan orang-orang yang bijaksana untuk memiliki kesadaran, dan siap menghadapi dengan sungguh-sungguh terhadap berbagai konspirasi, menyadari apa yang diinginkan umat Islam dari berbagai niat jahat dan licik, dan jadikanlah tema tatsqif kepada para pemuda.
    "Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar”. (At-Taubah:119)
    “Dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas, yang membuat kerusakan di muka bumi dan tidak Mengadakan perbaikan”. (As-Syu’ara:151-152)
  2. Berusaha mencari alternatif yang lebih baik untuk mengisi kekosongan yang mendorong pemuda jatuh pada penyimpangan akhlaq. Dan dalam hal ini saya menyeru kepada pusat-pusat kepemudaan dan olah raga baik pemerintah maupun swasta, club-club sosial, dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat untuk memasukkan dunia Islam pada pelaksanaan daurah-daurah ilmiah dan keterampilan yang bermanfaat bagi pemuda, mengarahkan mereka untuk ikut serta dalam kegiatan-kegiatan nyata yang beragam, sehingga mereka terbiasa untuk aktif dan merasakan eksistensi dan keberadaan mereka dalam hidup ini.
  3. Membuka kesempatan kepada para pemuda untuk ikut serta dan aktif dalam proyek kebangkitan dan reformasi yang integral, menyadari akan potensi mereka, sehingga dengan itu mereka terbiasa melakukan nilai-nilai positif, meninggalkan sikap acuh dan ketidakpedulian serta sikap-sikap negatif yang telah banyak merasuk dalam kehidupan para pemuda. Dan dari sini saya menyeru kepada para cendekiawan, koresponden politik, serta lembaga-lembaga tsaqafah, kelompok-kelompok dan yayasan-yayasan yang memiliki hubungan dengan penumbuhan kesadaran dan wawasan untuk memberikan sumbangan pemikiran dan pendapat, dan mendiskusikan permasalahan pemuda dan menyimak pendapat-pendapat mereka, menumbuhkan keahlian mereka untuk dapat ikut serta dalam memberikan solusi terhadap permasalahan yang dihadapi umat, dan bersegera melakukan kebangkitan dengannya.
  4. Kepada para ulama yang memiliki perhatian terhadap pemuda hendaknya bersungguh-sungguh dalam menyatukan para pemuda umat ini, memberikan arahan kepada mereka, menghancurkan batu penghalang antara mereka dengan para pemuda umat, mengembalikan perasaan tsiqah yang telah hilang dari mereka, melalui mobilisasi peran positif mereka secara kongkret dalam memimpin kebangkitan ini, melalui pengokohan diri pada kalimat yang hak, memberikan peringatan kepada para pemuda dan umat akan berbagai fenomena yang menafikan dan bertentangan dengan syariat Allah SWT; yaitu dengan selalu menjaga persatuan umat, potensi dan kepemudaannya, dan juga menyatukan keseluruhannya untuk menghadapi ancaman yang berbahaya tersebut.
Saya sampaikan bahwa para ulama memiliki peran yang besar dalam menjaga dan melindungi pemuda, memberikan kepuasan akan kebutuhan ilmiah dan tarbiyah mereka, kepuasan dalam ilmu yang benar dan tarbiyah yang sungguh-sungguh, diiringi dengan taqwa kepada Allah terhadap apa yang akan datang, yang ditinggalkan, difatwakan dan diberikan wawasan, karena tanpa ini semua maka para pemuda akan mencari kesibukan sendiri terhadap sesuatu yang dapat membangkitkan semangat mereka, memahami potensi dan kemampuan mereka bukan pada koridor yang sebenarnya, padahal Allah telah mengambil perjanjian dan menegaskan perjanjian tersebut pada ulama di setiap kepercayaan untuk menjelaskan kebenaran dan tidak menyembunyikannya:

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi kitab (yaitu): “Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya,“(Ali Imran:187)

dan firman Allah:

“Sesungguhnya orang-orang yang Menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah tobat dan Mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah aku menerima tobatnya dan Akulah yang Maha menerima tobat lagi Maha Penyayang”. (Al-Baqarah:159-160)

Wahai para ulama murabbi ..(ketahuilah) bahwa pembinaan Pemuda bangsa atas kebanggaan, keberanian, kerja keras dan kesungguhan merupakan tanggung jawab kalian, dan kalian adalah yang paling berhak dan ahlinya.


Kepada para pemimpin bangsa dalam berbagai bidang dan tingkatan; hendaknya memberikan kesempatan kepada para pemuda beberapa posisi dan tanggung jawab, dengan memberikan kesempatan kepada mereka yang dapat membuat mereka bebas bergerak dan memilih; guna mempersiapkan mereka, dan mengembangkan bakat dan mengeksplorasi potensi yang mereka miliki, dan juga memberikan kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang tua dan sesepuh, untuk mengambil manfaat dari pengalaman dan mencontoh ibrah dari pengalaman mereka; sehingga menyatu antara potensi pemuda dengan kebijaksanaan dari orang tua, membuahkan hasil menjadi orang yang cerdas dalam memberikan pendapat dan baik dalam kerja, dan demi Allah… Umar bin Al-Khathab, yang mengambil dari pemuda umat ini yang memiliki kesadaran dan pencerahan untuk menjadi penasihatnya; ikut serta dalam majelis bersama para senior dan pemimpin, dan memberikan sesuatu (pendapat) yang bermanfaat untuk bangsa.

Apakah sama orang yang berfikir maju # Dengan orang yang berfikir mundur

Barangsiapa yang mencari tujuan bukan pada # Kebenaran tidak akan sampai pada tujuan


Nasihat untuk para pemuda Ikhwanul Muslimin


Sejak tujuh puluh tahun lalu ada enam pemuda dari universitas Mesir hadir; mereka menyerahkan diri dan tenaga mereka karena Allah, dan mereka bergerak untuk menyebarkan dakwah yang benar, petunjuk dan kebahagiaan antara pemuda di universitas-universitas, dan Allah mengajarkan kepada mereka keikhlasan dan kejujuran, memberikan dukungan dan kekuatan kepada mereka, sehingga dalam universitas tersebut seluruhnya bagian dari pendukung Ikhwanul Muslimin, mencintai dan menghormati mereka dan berharap dari mereka mendapatkan kesuksesan, dan dari pemuda universitas tersebut ada kelompok yang mulia dan beriman ikut serta dalam berdakwah, dan menyebarkan kabar gembira di setiap tempat, dan bergerak dari perkotaan ke pedesaan, sehingga akhirnya masyarakat dari perkotaan, pedesaan dan dusun menerima dakwah mereka.

Dan hal Ini memiliki dampak yang besar dalam kebangkitan suatu bangsa, tidak hanya terbatas penerimaan pemuda atas kelompok pelajar, orang-orang terkemuka dan yang lainnya saja namun juga pada kalangan rakyat yang beriman mau menerima dakwah ini, dan bahkan menjadi sebaik-baik pendukung dalam perjalanan dakwahnya, betapa banyak dari kalangan pemuda yang tersesat akhirnya mendapatkan hidayah, dalam kebingungan akhirnya mendapat petunjuk, terjerumus dalam kemaksiatan lalu Allah memberikan arahan menuju ketaatan, tidak mengenal tujuan hidup lalu diberikan arahan akan tujuan hidupnya

“Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki “. (An-Nuur:35)

Mereka para pemuda yang memiliki denyut nadi, yang mencintai negara dan bangsa, peran mereka yang besar dalam memerdekakan keinginan umat dan dalam menghadapi proyek penjajahan, sekiranya tidak ada pengkhianatan oleh sebagian rezim pemerintah maka akan terwujud apa yang menjadi keinginan mereka dalam menghancurkan proyek Zionisme, namun itulah takdir Allah dan tidak bisa dipungkiri akan adanya hikmah dibaliknya.

Dan pada kurun 30 tahun yang lalu, ada juga kelompok dari para pemuda Ikhwanul Muslim di Universitas-universitas Mesir aktif dalam menyebarkan dakwah pada kebaikan dan cahaya di tengah para pemuda lainnya, terutama setelah para thagut menduga bahwa mereka telah hancur, padahal para pemuda tersebut telah mendapatkan hikmah dan pengalaman dari para orang tua, memahami risalah dan dakwah, saling melakukan tanya jawab bersama pemuda Islam yang haus pada dakwah yang benar, sehingga dakwahpun menyebar kembali kepelosok negeri Mesir, bahkan hingga menjangkau negara-negara Arab dan Islam dan bahkan negara minoritas muslim, para pembela kebenaran melihat cahaya kebenaran ini dan tunduk kepadanya, dan mereka selalu mendengarkan akan cahaya kebenaran lalu menerimanya.


Bersamaan dengan berbagai kendala dan hambatan yang merintang di jalan dakwah dan reformasi; mereka menemukan cara untuk masuk ke dalam hati bangsa, melalui keteguhan para pemuda dan ketegarannya, yang menyadari nilai risalah yang mereka pegang dan hormati, dan kebutuhan negara dan bangsa akan perjuangan dan pengorbanan mereka, mereka terus melakukan kebaikan di berbagai bidang, dan memberikan prestasi di berbagai penjuru, dan menghadirkan teladan yang indah kepada negara, kesetiaan dan pengorbanan.


Kami melihat ini sebagai tanda petunjuk, dan kami terus melihat kemajuan yang menyeru kami untuk memiliki cita-cita yang kuat, ketekunan dan komitmen serta melipat gandakan kerja keras


“Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Imran: 126).


Karena itu wahai para pemuda Ikhwanul Muslimin di berbagai penjuru.. berpegang teguhlah kalian pada agama kalian, dan bertebaranlah membawa dakwah yang benar bersama Ikhwan kalian yang lainnya..


Berjalanlah, karena kalian adalah bak kuda dan hatinya # Sinarilah bumi dengan membawa citra dan cahaya


Berjalanlah dengan membawa berkah Allah dan menyebarlah # Kami akan menjadi telinga yang siap mendengar dan mata yang siap melihat


Ingatkanlah kepada kami hari-hari telah lewat # Sungguh kami telah lupa akan waktu dan usia


Kami menginginkan para pemuda untuk menentang pemerintah yang korup dan musuh bangsa dan agama, dan membalikan meja para pelaku konspirasi pemuda bangsa ini dan menyeru:


Saya adalah seorang muslim yang berusaha menyelamatkan dunia # Menuju cahaya, keimanan dan bahagia


Sungguh ironi terhadap ujian yang menimpa umat ini # Yang telah jauh dari jalan Pemberi Hidayah

Nasihat untuk para pemuda umat ini.. laki-laki dan wanita
Kalian adalah cita-cita dan harapan bangsa, dan kami mengetahui bahwa dalam diri kalian ada kebaikan yang besar, karena itu rasakanlah selalu wahai para pemuda apa yang sedang dialami oleh umat dan bangsa ini akan kehinaan, penindasan, realita yang menyedihkan, kondisi yang memilukan tidak menjanjikan akan kebebasan dan kemerdekaan yang diidamkan. Dan sadarilah, bahwa karena kalian lambat dalam bertobat dan kembali kepada Allah, menjadi sebab lambatnya kebenaran yang muncul di permukaan. Dan karena kalian bermalas-malasan dalam mengerahkan tenaga dan fikiran dalam berdakwah pada kebenaran dan reformasi; maka menjadi penyebab lambatnya kemenangan umat kalian; karena Allah telah menjanjikan kepada kita kekuatan, kemuliaan dan kemenangan jika kita melaksanakan perintah-Nya dan komitmen dengan syariat-Nya.


Allah berfirman:


“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (Muhammad:7)


Ketahuilah wahai para pemuda Islam, bahwa kebahagiaan di dunia dan akhirat berada di jalan ketulusan dan dakwah kepada Allah serta dengan selalu menjalin komunikasi yang baik dan pembawa sumber cahaya kepada umat baik dari para duat, orang-orang shalih, ulama, pemberi nasihat dan Ikhwan yang jujur.


Wahai para pemuda Muslim di segala penjuru
Kalian harus menjadi contoh yang memberikan pengaruh dalam kehidupan umat dan negeri kalian, kalian harus memiliki peran positif dalam melakukan perubahan terhadap kondisi yang memilukan ini; menuju realita yang lebih diridhai karena Allah, rasul-Nya dan orang-orang beriman, dan benarlah ungkapan di bawah ini:

“Wahai para pemuda, bekerjalah… karena sesungguhnya kerja itu ada dalam diri pemuda”.


Wahai para pemuda umat…
Jika saat ini kalian tidak mampu menguasai diri kalian, tidak mau bersungguh-sungguh mengendalikan syahwat dan kecenderungan kalian, malah untuk mengerahkan tenaga pada umur yang baik kalian demi tegaknya aqidah, negeri dan masa depan umat kalian, kapan lagikah hal itu terjadi?!

Karena itu kemarilah bersama kami, kemarilah bersama kami wahai para pemuda… agar kita bisa berbuat dan bekerja bersama-sama membuat fajar baru, mengembalikan bersama-sama untuk mengembalikan kemuliaan yang dinanti-nantikan yang sedang dinanti-nantikan.

Wahai para pemuda generasi Islam kembalilah # Kalian adalah ruhnya dan dengan kalian akan menjadi pemimpin

Kalian adalah rahasia kebangkitan yang telah lama hilang # Dan kalian adalah fajarnya yang membawa cahaya baru

Allah Maha Besar dan segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam atas nabi kita Muhammad saw, beserta keluarganya, para sahabatnya dan pengikutnya..

Dan segala puji hanya milik Allah, Tuhan semesta alam.

*) Mursyid 'Am Ikhwanul Muslimin

Sumber: Ikhwan

Thursday, May 28, 2009

Oleh: Ibnu Kahfi Bachtiar, Alumni S2 Universitas Oldenburg (Jerman)

Harta yang paling bernilai dari sebuah peradaban adalah pemuda. Bagaimana tidak, ketika kebanyakan orang-orang di sekeliling mereka sudah hampir putus harapan dan bingung mendefinisikan apa itu pasrah, tawakal, ikhtiar, takdir, dan sejarah, maka para pemuda adalah kelompok yang dengan jelas dan terang menangkap definisi dari hal-hal tersebut. Sungguh unik keberadaan pemuda dalam sebuah umat. Ketika semangat sudah sulit didapat, mereka temui semangat itu pada pemuda.

Bila ada yang hendak mendengar bahwa sesuatu itu mungkin ketika yang lain sudah mengatakan “jangan melawan arus”, maka para pemuda lah yang mengatakan bahwa di mana-mana yang tidak melawan arus itu adalah yang terombang-ambing, sedangkan tidak akan sampai kapal itu di tujuan jika arus tidak dilawan dan dihadapi. Bahkan arus besar yang mengancam nyawa pun tidak layak untuk dibandingkan nilainya dengan sampainya kapal pada tempat tujuan yang hakiki dan sejati.

Lalu bagaimana bila para pemuda ini adalah pemuda yang perjalanan harinya tidak lepas dari kalimat syahadat yang berdengung di telinga, terucap di bibir, dan sudah menyatu dengan hati ? Bagaimana bila pemuda ini adalah ketika yang lain cemas dengan dunia beserta isinya, sedangkan mereka hanya cemas ketika mushaf itu belum terpegang olehnya ketika membuka, mengisi, dan menutup hari ?

Bagaimana bila pemuda ini ketika yang lain mencurahkan tenaga dan pikiran untuk memperindah halte dunia mereka sedangkan para pemuda inilah yang tenaga dan pikirannya disibukkan hanya untuk mempersiapkan apa yang hendak dikatakan sesudah mati ? Bagaimana bila pemuda ini ketika yang lain begitu kenal dengan taghut-taghut baru yang mencoba menarik hati, maka mereka lah yang sudah memenuhi hati dengan teladan para nabi, generasi awal yang kisahnya harum semerbak wangi, para syuhada yang tetap hidup walau dikira mati, dan para pejuang sejati yang tetap akan ada sampai ketika tidak ada lagi yang bisa disebut sebagai hari ?

Lalu sebandingkah hati, pikiran, nurani, semangat, air mata, tetes keringat, dan darah para pemuda ini dengan dunia beserta isinya yang dalam Al Quran pun sama sekali tidak pernah dipuji ? Pantaskah ada yang mendahului langkah persatuan umat itu bila bukan dari para pemuda ini ?

Dahulu bangsa ini pernah melihat pemudanya bersatu. Kebanyakan masing-masing membawa nama tanah di mana mereka lahir, kecuali Jong Islamitenbond. Kenapa ? Karena tanah terlalu hina untuk dibawa-bawa sebagai identitas bagi mereka yang sudah meletakkan Islam dan ketauhidannya sebagai satu-satunya kemuliaan. Luar biasa apa yang dibawa para pemuda itu.

Tidak sampai seratus jumlah mereka, jumlah yang tidak sekalipun bisa disebut secuil dibandingkan bangsa mereka yang sudah melimpah jumlahnya. Tetapi lihatlah apa yang mereka deklarasikan dan kelak disebut sumpah. Sungguh jauh berarti dari deklarasi penghambaan sebagian besar bangsanya yang masih belum tahu bagaimana hendak mencabut deklarasi penghambaan turun temurun itu.

Belum lagi merdeka, dan pada saat itu hanya mimpi belaka menyebut-nyebut merdeka, mars yang kelak menjadi lagu kebangsaan sudah lantang menyebut “Merdeka !”. Lalu mimpi siapa yang benar ? Mimpi para penikmat arus zaman atau mimpi para pemuda yang tidak punya apa-apa melainkan kesadaran ? Inilah mimpi yang diakui zaman dan kelak dibuktikan oleh zaman.

Kalaupun ada Kongres Pemuda Jilid Dua, maka yang ini harus berbeda. Pesertanya adalah mereka yang mengutamakan ketauhidan di atas segala-galanya. Para pemuda yang hadir tidak membawa nama tanah mereka lahir. Mereka memang membawa nama tempat lahir mereka, tetapi tempat lahir mereka itu bukanlah tanah, melainkan tempat lahirnya hidayah yang diturunkan-Nya. Mereka memang membawa nama organisasi mereka, perkumpulan dakwah mereka, harakah mereka, dan kalaupun ada, manhaj yang dianggap berbeda.

Tetapi syahadat mereka terlalu berat pertanggungjawabannya bila semua nama itu menggantikan Satu Ilah mereka. Diri mereka terlalu lemah bila banyaknya kitab rujukan mereka harus dipaksakan menggantikan Kitabullah, rujukan dari segala rujukan. Bendera mereka tidaklah lebih berharga bila hendak menggantikan Panji Islam, satu-satunya bendera yang diridhai-Nya.

Tempat yang dipilih pun bukanlah tempat yang tidak punya sejarah kental dengan risalah Rasulnya. Rasanya ada dua pilihan, Aceh sang Serambi Mekkah, tanah yang sejarahnya adalah perjuangan mengentaskan penghambaan manusia terhadap manusia, dan Bumi Minangkabau, kalaulah boleh disebut Serambi Madinah, bumi tempat lahirnya para ulama istiqamah yang menunjukkan betul arti perjuangan.

Lalu apa keistimewaan kedua tempat ini dibandingkan tanah biasa yang sudah padat dengan hiruk pikuk pusat pemerintahan yang sudah asing dari rakyatnya sendiri ? Tidak lain karena kedua bumi ini adalah bumi Zamrud Khatulistiwa yang paling dekat dengan Mekkah dan Yerusalem. Ke sanalah seharusnya umat ini menghadap. Kalaupun bervisi untuk bersatu, maka satukanlah visi itu dengan kiblat yang sama. Kalaupun boleh bermimpi, bermimpilah untuk menginjakkan kaki ke kedua tanah itu sebelum menginjakkan kaki di surga.

Bila dahulu kebangkitan bangsa ini banyak digerakkan oleh para pemuda dari negeri yang asing dengan makna tauhid, adakah berlebihan bila sekarang berharap kebangkitan itu banyak digerakkan oleh para pemuda dari negeri yang ketauhidan adalah sejarahnya sendiri. Kadang-kadang masalah itu memang lebih jelas bila dilihat dari luar sana.

Di manakah engkau wahai pemuda dari negeri Mesir ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Libya ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Sudan ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Afrika ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Jerman ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Belanda ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Swiss ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Perancis, Inggris, Skandinavia, Bosnia, dan Eropa ! Di manakah engkau wahai pemuda dari negeri Hijaz ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Arabian Peninsula ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Pakistan ! Di manakah engkau wahai pemuda dari India ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Malaysia ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Jepang ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Asia ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Australia ! Di manakah engkau wahai pemuda dari USA ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Kanada ! Di manakah engkau wahai pemuda dari Amerika !

Sungguh...adakah sebutan lain bila bukan kemubaziran bila sudah tersebarnya pemuda umat di lima benua tetapi mereka merasa berat untuk bertemu di satu tempat di Zamrud Khatulistiwa ? Jawaban apa yang mereka punya bila datang kepada mereka malaikat penanya ?

Lalu apa agenda Kongres Pemuda ini ? Diri ini terlalu lemah untuk mengatakan apa yang belum pantas disebut. Kepala ini terlalu kecil untuk mendahului kumpulan kepala-kepala yang zikirnya adalah berpikirnya itu sendiri. Cukuplah para pemuda ini yang berembuk bersama dan membulatkan sebenarnya apa mau mereka, apa visi mereka, dan apa yang harus dipersiapkan. Cukuplah agenda terdekat adalah bertemu. Ya, mempertemukan pemuda umat yang sebenarnya dalam diri mereka mengalir darah yang sama, darah orang-orang beriman.

Bila sebelumnya mereka bisa berkata sinis pada saudaranya, masihkah kalimat sinis itu keluar ketika melihat wajah saudaranya ? Bila sebelumnya berniat hendak habis-habisan berdebat dengan saudaranya, cairkah niat itu ketika mendapat ucapan salam, jabat tangan, dan pelukan dari saudaranya ? Bila sebelumnya tidak bersatu, begitu mustahilkah untuk berharap bahwa akan ada persatuan yang hendak diubah dari sekedar cita menjadi nyata ?

Jangan berharap hendak bersatu sebelum bertemu. Rasulullah SAW mempersatukan Anshar dan Muhajirin dengan mempertemukan mereka, bahkan setiap Anshar pulang membawa satu Muhajirin sebagai saudaranya. Adakah sejarah umat lain yang mengisahkan persatuan seperti ini ? Sejak kapan ukhuwah bisa terjalin dengan bertemu secara maya tanpa bertemu langsung dengan saudaranya yang wajahnya memancarkan keimanan yang menular lebih cepat dari penyakit mematikan sekalipun ?

Umat ini sudah cukup lama tertidur. Umat ini sudah lama menanti titik terang kebangkitan yang hanya pantas dibawa oleh para pemudanya. Umat ini sudah terlena hanya untuk menggantungkan perubahan dari siklus perubahan yang diformalkan. Umat ini sedang menanti mereka yang meneladani Pemuda Muhammad yang mampu menyatukan kabilah-kabilah yang saling bertentangan hanya untuk memperoleh kehormatan meletakkan sebongkah batu hitam.

Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Ali yang ketika berumur 23 tahun sudah merelakan jiwa raganya menempati tempat tidur Rasulullah SAW demi kelangsungan cahaya Islam walau sewaktu-waktu ayunan pedang musuh membuatnya tidak akan berjumpa lagi dengan Rasul junjungan tercinta. Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Mush'ab, Duta Islam pertama, pembuka keran hijrah, pemegang panji Islam di Perang Badar dan Uhud, yang ketika menjemput syahid di tangan musuh, hanya berucap “Muhammad hanyalah utusan ALLAH, dan telah berlalu sebelumnya utusan-utusan ALLAH “. Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Usamah yang ketika berumur 20 tahun sudah memimpin pasukan yang diikuti Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali.

Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Zaid, Ja'far, dan Ibnu Rawahah yang syahidnya mereka kemudian menjadi pemadam kearoganan Romawi. Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Khalid, yang rahasia tidak terkalahkannya pasukan yang dipimpinnya semata-mata karena ALLAH, Rasulullah SAW, dan orang-orang beriman yang menjadi penolongnya. Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Shalahuddin Al Ayyubi yang mengambil kembali apa yang menjadi hak Kaum Muslimin yang tanpanya Kaum Muslimin menjadi kehilangan arti. Umat ini sedang menanti pemuda yang meneladani Muhammad Al Fatih yang membuktikan janji Rasulnya.

Sudah cukup pemuda berharap pada yang lain untuk bersatu namun yang didapat tidak sekalipun bertemu di yang satu. Saatnya para pemuda ini menuntut dirinya sendiri. ALLAH, Rasulullah SAW, dan orang-orang beriman lah yang menjadi saksi.